Struktur Insentif Hierarki Pemerintah Keseimbangan Kekuatan Tatanan Spontan Asosiasi Bebas Saling Bantu Nirkekerasan Aksi Langsung Jendela Kesempatan
Kerangka bagi Dunia yang Bebas
Titik Tolak Dasar
Dunia yang bebas tidak bisa dimulai dari cetak biru yang sudah lengkap. Mencoba merancang satu sistem untuk semua orang lalu memaksakannya dari atas hanya akan menghidupkan kembali struktur yang hendak diatasi oleh kebebasan.
Maka titik tolak yang tepat bukanlah model masyarakat yang ditentukan sebelumnya, melainkan kerangka untuk menilai hubungan, lembaga, dan cara melakukan perubahan.
Kerangka ini hendak menumbuhkan otonomi: kemampuan untuk membentuk hidupmu sendiri tanpa ditempatkan di bawah struktur yang memungkinkan orang lain menindasmu.
Tujuan kita adalah melihat struktur dengan jelas:
Apa sumber sebenarnya dari masalah dunia?
Struktur Insentif
Untuk menjawabnya, kita harus lebih dulu memahami struktur insentif.
Insentif adalah keadaan apa pun yang memberi seseorang atau suatu kelompok alasan untuk bertindak.
Insentif yang mungkin pertama kali terlintas di benak kita adalah uang, tetapi uang hanya salah satu bentuknya. Orang juga digerakkan oleh rasa aman, rasa memiliki, pengakuan, timbal balik, harga diri, kreativitas, dan belas kasih.
Struktur insentif adalah mekanisme imbalan, hukuman, risiko, kesempatan, dan batasan yang mengarahkan perilaku dengan menjadikan sebagian tindakan menguntungkan, sementara tindakan lain membebani pelakunya. Struktur ini menunjukkan apa yang didorong oleh sistem dalam praktik, terlepas dari nilai yang diklaim oleh aturan atau orang yang mengendalikannya.
Sistem Imbalan
Struktur kekuasaan yang terpusat memberi imbalan bagi upaya mengejar kekuasaan, uang, dan kendali. Struktur itu memberi imbalan jauh lebih besar kepada mereka yang paling bersedia mengejar kekuasaan, sebab kendali terpusat memberi mereka daya ungkit lebih besar terhadap semua orang lain. ༆
Orang menyebutnya “korupsi”, tetapi hasilnya bukan sesuatu yang terpisah dari sistem. Orang yang mengeksploitasi kekuasaan terpusat mendapat imbalan darinya, sementara lembaga yang mereka kendalikan melindungi mereka dari pertanggungjawaban.
Struktur insentif mendahului hierarki sebagai landasan yang lebih mendasar. Hierarki mengeras ketika konsentrasi kekuasaan diberi ganjaran dan penolakan menjadi mahal, lalu mempertahankan struktur yang melahirkannya.
Hierarki
Hierarki adalah organisasi berbentuk piramida yang menempatkan satu individu atau kelompok di bawah yang lain. Dalam organisasi berjenjang ini, perbedaan jenjang mencerminkan tingkat otoritas, yakni hak memerintah mereka yang berada di bawah dan kewajiban menaati mereka yang berada di atas.
Dalam pengertian politik, hierarki adalah struktur sosial perintah dan ketaatan. Struktur insentif masa lalu menciptakan hierarki yang ada sekarang; hierarki kemudian mengubah insentif itu untuk melanggengkan dirinya.
Organisasi tidak menjadi hierarki hanya karena perannya berbeda atau bertahan lama; hierarki bermula ketika peran itu mengeras menjadi otoritas dan kewajiban untuk taat.
Kondisi yang ada memungkinkan hierarki ketika kendali atas pangan, tanah, keamanan, pekerjaan, hukum, informasi, atau kekerasan memberi satu pihak daya ungkit atas pihak lain.
Hierarki membakukan daya ungkit itu menjadi otoritas yang diakui, kedudukan yang bertahan lama, perintah, dan kewajiban untuk taat. Eksploitasi dapat timbul ketika keunggulan itu mengeras menjadi tuntutan tetap atas ketaatan orang lain.
Namun setelah berdiri, hierarki tidak lagi sekadar hasil insentif: ia menjadi mekanisme yang menghasilkan insentif. Ia memberi ganjaran kepada mereka yang mengumpulkan otoritas dan mereka yang patuh secara strategis. Ia menghukum penolakan, menyeleksi orang dengan watak yang cocok untuk memerintah, dan menciptakan kembali kondisi yang dipakai untuk membenarkan kelanjutannya.
Memahami struktur insentif dan hierarki memperlihatkan struktur kekuasaan yang mendominasi dunia kita serta penindasan yang dihasilkannya.
Otoritas
Otoritas adalah klaim yang dianggap sah oleh masyarakat, yang memberi hak untuk memerintah kepada individu atau lembaga, menuntut ketaatan, dan menopang perintahnya dengan kekuatan.
Otoritas berbeda dari kekuatan. Kekuatan adalah kemampuan bertindak, membujuk, melawan, membantu, atau menyakiti. Otoritas mengubah kekuatan menjadi hak yang diklaim sebagai miliknya.
Keahlian dapat memberi masukan dan kepemimpinan dapat menawarkan arah, tetapi keduanya tidak memberikan hak kepada siapa pun untuk memerintah. Otoritas bermula ketika nasihat berubah menjadi wewenang mengatur dan penolakan berubah menjadi pembangkangan.
Otoritas tidak harus terus-menerus memakai kekuatan karena ancamannya sudah tertanam dalam lembaga. Mereka yang menolak dapat kehilangan penghasilan, tempat tinggal, status, akses, kebebasan, atau pada akhirnya menghadapi kekerasan.
Itulah yang membuat otoritas dapat tampak damai. Perintah menjadi biasa, ketaatan menjadi harapan, dan hukuman menjadi penegakan ketertiban yang dianggap sah.
Otoritas memberi hierarki keabsahan sosial dan memungkinkan dominasi berlanjut tanpa menampakkan kekerasannya setiap saat. ༆
Pemerintah
Pemerintah adalah bentuk kelembagaan khusus dari hierarki: organisasi terpusat yang mengklaim otoritas atas seluruh penduduk dan wilayah, mengklaim monopoli atas kekerasan yang dianggap sah, membuat hukum yang mengikat, memungut pajak, dan memaksakan kepatuhan melalui pengadilan, polisi, penjara, dan kekuatan militer.
Argumen bahwa manusia terlalu mudah melakukan kekerasan dan tak dapat dipercaya untuk hidup tanpa penguasa juga berlaku bagi para penguasa. Penguasa juga manusia yang bisa salah, hanya saja mereka mengendalikan tentara, penjara, pengawasan, pajak, dan hukum. Kekuasaan yang terkonsentrasi tidak menahan sisi terburuk manusia. Kekuasaan itu memperluas jangkauan sisi terburuk tersebut dan melindunginya dari pertanggungjawaban.
Jika manusia berbahaya, jawabannya bukan menyerahkan kekuasaan, otoritas, dan kendali atas jutaan orang kepada segelintir orang. Ketidakpercayaan adalah alasan untuk mendesentralisasikan dan menyebarkan kekuasaan agar tidak ada individu atau lembaga yang dapat memaksakan kehendaknya kepada begitu banyak orang.
Memilih siapa yang menjalankan otoritas berbeda dari memilih apakah kita tetap tunduk kepadanya.
Pembatasan terhadap penguasa dapat menahan mereka, tetapi daya pembatasan itu berasal dari kemampuan menantang kekuasaan, bukan dari hak penguasa untuk ditaati. Hak yang terus melekat untuk memberi perintah membawa bahaya tambahan: mereka yang ditantang dapat menghukum penolakan dan mengendalikan sumber daya yang diperlukan untuk melawan mereka.
Dunia yang bebas tidak menjanjikan berakhirnya dampak buruk, konflik, atau kesalahan manusia. Kekuatan yang tersebar membawa risiko perpecahan dan kegagalan bekerja sama. Lembaga yang memiliki otoritas masih dapat mengoordinasikan atau membatasi kekuatan lain; kemampuan itu berbeda dari otoritas yang diklaimnya.
Otoritas tidak mengimbangi risiko itu; ia memperparah akibat kesalahan manusia dengan memperluas jangkauannya, membebankan akibatnya kepada semua orang yang tunduk, dan melindungi keputusan yang menyebabkannya dari umpan balik yang dapat memperbaikinya.
Bahkan perlindungan yang diperlukan dapat membuat orang bergantung pada penyedianya, yang kemudian dapat memakai ketergantungan itu untuk mempertahankan klaim atas hak untuk terus memerintah.
Dominasi tidak terselesaikan dengan menjadikan satu kekuatan sebagai penentu akhir hanya karena ia dapat menahan kekuatan lain. Dominasi dibatasi dengan memastikan tidak ada kekuatan yang menjadi penentu akhir. Kekuatan apa pun yang mampu menahan pihak lain harus tetap dapat dilawan; jika tidak, kekuatan penyeimbang menjadi dominasi berikutnya. Jalankan prinsip itu secara konsisten dan pengamannya adalah keseimbangan itu sendiri. Klaim tetap untuk memerintah tidak menciptakan penyeimbang; klaim itu menciptakan ketimpangan yang harus terus dibendung oleh keseimbangan.
Menolak otoritas berarti mempertahankan koordinasi dan pembatasan tanpa memberi siapa pun klaim tetap untuk memerintah orang-orang yang harus menanggung akibat kegagalan pihak yang memerintah.
Gagasan dunia yang bebas sering ditolak sebagai utopia. Padahal sistem saat ini bertumpu pada asumsi yang sungguh utopis: bahwa orang yang bisa salah dapat cukup dibatasi ketika mereka dipercayakan kekuasaan, otoritas, dan kendali atas seluruh penduduk.
Masalahnya bukan hanya orang yang salah sedang duduk di takhta. Masalahnya adalah takhta itu ada.
Pajak
Pemaksaan adalah penggunaan atau ancaman kekuatan, hukuman, atau perampasan untuk membuat seseorang bertindak melawan kehendaknya atau mencegahnya bertindak bebas.
Pajak adalah pengambilan sumber daya secara paksa di bawah ancaman hukuman.
Pemerintah menuntut sumber daya dari orang tanpa memandang apakah mereka setuju memberikannya. Penolakan tidak mengakhiri hubungan itu. Penolakan memicu sanksi yang ditopang penegakan pemerintah.
Inilah yang membedakan pajak dari pertukaran sukarela. Pertukaran sukarela memerlukan kemampuan nyata untuk menolak. Pajak tidak.
Pajak juga memisahkan keputusan dari biayanya. Pemerintah dapat membelanjakan sumber daya tanpa para pengambil keputusan menanggung seluruh biaya sendiri karena biaya itu dapat dibagi ke seluruh penduduk yang tidak dapat menarik dukungan mereka secara bebas.
Perang memperlihatkan mekanisme ini dengan jelas. Mereka yang mengizinkan perang tidak membiayai seluruhnya secara pribadi. Pemerintah mengambil sumber daya dari jutaan orang, termasuk yang menentang perang itu sendiri, sehingga segelintir pengambil keputusan dapat mengerahkan sumber daya untuk kekerasan tanpa meminta persetujuan mereka yang dipaksa menyediakannya.
Pemerintah tidak menghasilkan sumber daya itu terlepas dari penduduk yang diperintahnya. Pajak memberinya akses terus-menerus pada hasil kerja orang tanpa perlu persetujuan yang terus diberikan. ༆
Jadi masalahnya lebih dalam daripada besarnya pajak. Pajak menetapkan prinsip bahwa sebuah lembaga dapat mengklaim bagian dari kerja orang lain tanpa meminta persetujuannya.
Keseimbangan Kekuatan
Keseimbangan kekuatan adalah keadaan ketika kekuatan cukup tersebar sehingga tak ada individu atau lembaga yang dapat memaksakan kehendaknya kepada orang lain tanpa menghadapi perlawanan, pilihan lain, atau biaya yang nyata.
Keseimbangan tidak berarti setiap orang memiliki kekuatan, sumber daya, pengetahuan, atau pengaruh yang sama persis. Perbedaan itu tidak harus lenyap. Persoalannya adalah apakah perbedaan itu dapat menjadi begitu besar sehingga penolakan tidak berarti lagi dan perbedaan itu mengeras menjadi otoritas.
Keseimbangan kekuatan membalik insentif tersebut. Ketika orang tetap mampu melawan, menarik diri, menyusun ulang hubungan, dan memenuhi kebutuhan melalui pilihan lain, dominasi lebih sulit dibangun dan lebih mahal dipertahankan.
Karena itu dunia yang bebas tidak bergantung pada anggapan bahwa manusia pada dasarnya baik atau dapat dipercaya. Ia bergantung pada terciptanya kondisi ketika tidak ada orang yang memiliki cukup kekuasaan terkonsentrasi untuk menguasai semua yang lain. Insentif untuk mengeksploitasi boleh jadi tetap ada, tetapi kemampuan mengeksploitasi dapat dibatasi oleh kekuatan orang lain untuk melawan. ༆
Untuk itu kekuasaan harus didesentralisasikan dan disebarkan kembali kepada individu serta kelompok yang berasosiasi secara bebas. Otonomi dan kemampuan mencukupi kebutuhan sendiri penting karena ketergantungan menciptakan daya ungkit. Jika satu lembaga menguasai kebutuhan hidup, kebebasan untuk menolaknya sebagian besar tinggal simbol belaka.
Ukuran yang sama berlaku di luar politik, termasuk pada kendali pihak swasta. Hubungan ekonomi dapat menjadi hierarkis ketika kendali atas tanah, perumahan, pekerjaan, atau kebutuhan lain memberi satu pihak cukup daya ungkit untuk membuat penolakan mahal dan mengubah ketergantungan menjadi kewajiban untuk taat.
Kemampuan mencukupi kebutuhan sendiri bukan berarti menyendiri. Orang dapat tetap sangat bergantung satu sama lain sambil mempertahankan beragam sumber pangan, energi, pengetahuan, komunikasi, dukungan, dan kerja sama. Semakin banyak pilihan, semakin sulit satu lembaga menjadikan dirinya begitu diperlukan sampai dapat memerintah semua orang lain.
Karena itu keseimbangan kekuatan bekerja ke dua arah sekaligus. Ia mengurai hierarki yang ada dengan mengurangi ketergantungan dan konsentrasi kekuasaan yang menopangnya, sambil melawan kembalinya hierarki dengan menjaga kekuatan tetap tersebar, pilihan tetap tersedia, dan penolakan tetap mungkin.
Tidak ada jaminan konsentrasi kekuasaan baru tidak akan pernah muncul. Jaminan semacam itu akan memerlukan otoritas lain yang cukup kuat untuk menegakkannya. Tujuannya justru mencegah konsentrasi kekuasaan menjadi permanen dan membuat orang tak bisa lepas darinya.
Kekuatan dapat berpindah tangan, terkonsentrasi, lalu tersebar kembali. Yang penting adalah kekuatan itu tetap dapat ditantang.
Layanan yang mutlak diperlukan tidak membutuhkan penguasa yang tak tergantikan. Bahkan ketika layanannya sendiri tidak dapat diduplikasi, kendali atasnya masih dapat berpindah tangan jika perlengkapan, pengetahuan, persediaan, dan dukungan yang diperlukan untuk menjalankannya tetap dapat diakses di luar satu penyedia. Dengan begitu kendali dapat berganti tanpa mengganggu layanan yang dibutuhkan orang.
Perlindungan yang dapat diandalkan memerlukan kemampuan pertahanan yang bertahan lama, bukan hak permanen untuk memberi perintah. Kemampuan itu dapat tetap tersebar di antara asosiasi yang mandiri sehingga tak ada pelindung yang menguasai dukungan yang diperlukan untuk melawannya.
Hak yang terus melekat untuk memberi perintah mengubah hubungan itu: penolakan itu sendiri dapat menjadi alasan hukuman, sehingga pelindung dapat memaksakan tuntutannya sendiri terhadap perlawanan. Perlindungan makin sulit ditantang ketika pelindung juga mengendalikan sarana untuk menantangnya.
Keseimbangan kekuatan yang sehat bergantung pada dorongan yang menyebarkan kekuasaan, melawan pemusatannya, sekaligus memperkuat dorongan tersebut. Ketika pilihan, persaingan, perlawanan, dan asosiasi baru tetap mungkin, semuanya menekan kecenderungan kekuatan untuk terus terkonsentrasi.
Keseimbangan kekuatan yang bertahan diperkuat oleh pendidikan yang menyebarkan pengetahuan dan kemampuan, kesempatan yang menjaga pilihan tetap terbuka, serta daya tangkal yang meningkatkan biaya yang harus ditanggung pelaku dominasi. Ketika konflik terjadi, arbitrase, rehabilitasi, pemulihan, dan pemutusan hubungan menawarkan cara menangani dampak buruk dan perselisihan tanpa menjadikan sengketa sebagai dasar otoritas permanen.
Tujuannya bukan sekadar membatasi dominasi, melainkan membebaskan potensi manusia dan kemampuan orang yang tak bisa dipatahkan untuk menolak diperlakukan hanya sebagai orang yang harus patuh.
Dunia yang bebas hanya mungkin ketika keseimbangan kekuatan menjaga otonomi dan mencegah individu atau lembaga mana pun memaksakan kehendak kepada orang lain pada tingkat sistem.
Tatanan Spontan
Tatanan spontan adalah kekuatan koordinasi yang penting ketika perundingan, pertukaran, dan kewirausahaan yang terdesentralisasi berpadu menghasilkan koordinasi berskala luas tanpa memerlukan rencana yang disengaja atau cetak biru bersama yang jelas bagi perkembangan sosial atau ekonomi, bahkan dapat melampaui apa yang sanggup dihasilkan rencana semacam itu.
Banyak tatanan di sekitar kita sudah berkembang seperti ini. Tak seorang pun merancang bahasa sebagai sistem utuh. Bahasa muncul ketika tak terhitung banyak orang berkomunikasi, menyesuaikan kata, membentuk kebiasaan, dan merespons satu sama lain dari generasi ke generasi. Internet berkembang melalui proyek yang disengaja dan protokol bersama, tetapi tak seorang perencana pun merancang keseluruhan sistem yang akhirnya terbentuk.
Inti tatanan spontan adalah ekuilibrium. Ekuilibrium bukan keadaan yang tetap atau tak bergerak. Ia adalah keseimbangan yang terus bergeser ketika berbagai tekanan saling memengaruhi dan sistem menyesuaikan diri.
Sistem alam, sosial, dan sosial ekonomi dibentuk oleh tekanan itu. Perubahan di satu bagian menimbulkan akibat di bagian lain, yang memicu tanggapan lanjutan di seluruh sistem. Kelangkaan, kelimpahan, insentif, kerja sama, konflik, permintaan, dan pilihan yang tersedia semuanya mendorong perilaku ke berbagai arah. Struktur insentif membentuk arah penyesuaian ini dengan menentukan perilaku mana yang diberi ganjaran, dibuat kurang menarik, atau dibuat mahal. Tatanan muncul dari interaksi berbagai kekuatan tersebut, bukan dari satu kekuatan yang mengendalikan seluruhnya.
Proses ini bekerja melalui umpan balik. Orang bertindak, mengalami akibatnya, mengamati satu sama lain, lalu menyesuaikan diri. Setiap tanggapan menghasilkan informasi baru yang memengaruhi langkah berikutnya. Melalui penyesuaian berulang, interaksi setempat dapat membentuk pola yang padu meski tidak dirancang atau sepenuhnya dipahami oleh siapa pun.
Sebagian kegagalan tidak aman jika dibiarkan pada percobaan dan perbaikan karena akibatnya dapat menjadi tak bisa dipulihkan sebelum umpan balik sempat bekerja. Risiko itu memerlukan persiapan dan koordinasi sebelum kegagalan terjadi, bukan hanya penyesuaian setelahnya.
Ketika kerusakan dapat disembunyikan atau dibebankan kepada orang lain, umpan balik dapat memberi ganjaran kepada eksploitasi alih-alih kerja sama. Tatanan spontan tidak dengan sendirinya menghasilkan sesuatu yang baik; struktur insentif membentuk hasilnya.
Kendali terpusat mengganggu proses ini ketika berusaha mengganti umpan balik yang tersebar dengan hasil yang sudah ditentukan. Pengetahuan tersebar di antara orang yang benar-benar berhadapan dengan keadaan yang berubah; banyak di antaranya bersifat lokal, praktis, dan hanya berlaku sementara. Ketika skala dan kerumitan meningkat, hierarki pusat harus mengolah lebih banyak informasi dari jarak yang lebih jauh. Semakin sulit bagi segelintir pengambil keputusan untuk menanggapi seluruh sistem seefektif orang yang menanggapinya langsung dari dalam.
Tatanan spontan menangani kerumitan melalui banyak titik pengetahuan dan penyesuaian yang saling berhubungan. Koordinasi muncul dari akumulasi tanggapan sistem itu sendiri. Karena penyesuaian tidak sepenuhnya bergantung pada koordinasi pusat, gangguan dapat diserap secara setempat, pilihan lain dapat tumbuh, dan struktur yang lebih luas dapat terus menata ulang dirinya dalam menghadapi kegagalan.
Hasilnya adalah tatanan yang muncul dari interaksi: koordinasi berskala luas yang dihasilkan oleh interaksi terus-menerus antara bagian-bagian yang lebih kecil. Tatanan bukan sesuatu yang diletakkan di atas sistem. Sistem menghasilkannya ketika bagian-bagiannya saling merespons dan bergerak menuju keseimbangan yang terus bergeser.
Tatanan tidak bisa begitu saja ditetapkan melalui hukum. Tatanan adalah hasil yang muncul dari orang yang memilih untuk bekerja sama. Jika orang diberi insentif untuk bertikai, hukum saja tidak bisa membuat mereka bekerja sama. Membangun dunia yang bebas berarti menciptakan insentif yang memungkinkan kerja sama dan tatanan.
Jaringan
Jaringan adalah struktur individu atau kelompok yang terhubung, yang dapat berkomunikasi, berkoordinasi, dan bertindak langsung tanpa mengharuskan setiap interaksi melewati otoritas pusat.
Hierarki memusatkan informasi dan keputusan melalui segelintir titik pusat. Jaringan menyebarkannya. Koordinasi dapat tumbuh dari bawah ketika orang langsung menanggapi perubahan keadaan, bertukar informasi, dan mengorganisasi diri menurut kebutuhan nyata.
Salah satu mekanismenya adalah stigmergi: tindakan meninggalkan tanda yang memandu tindakan berikutnya. ༆ Orang menanggapi apa yang sudah dilakukan orang lain sehingga koordinasi yang rumit dapat muncul dan menyebar tanpa perencana pusat yang mengarahkan setiap langkah.
Rizoma adalah struktur yang sangat kuat karena alasan ini. Tidak seperti pohon yang tersusun di sekitar satu batang utama, rizoma menyebar ke samping melalui banyak akar dan tunas yang saling terhubung. Ia bercabang, tersambung kembali, berkembang biak, dan terus tumbuh ketika sebagian rusak. Tak satu titik pun mengendalikan atau menampung seluruhnya.
Sebuah jaringan tidak terdesentralisasi hanya karena tidak memiliki hierarki formal; jika jaringan tidak dapat berjalan tanpa satu simpul, ketergantungan dapat menciptakan kembali daya ungkit yang dibutuhkan hierarki. Ketergantungan itu juga dapat muncul ketika banyak simpul mengandalkan pemasok, sumber daya, informasi, atau penjaga akses yang sama, atau ketika koordinasi itu sendiri membuat jaringan yang ada sulit ditinggalkan.
Jadi skala dapat menciptakan kembali ketergantungan tanpa membentuk hierarki formal. Pertanyaan yang penting adalah apakah fungsi yang sangat penting tetap dapat ditantang dan dapat dipindahkan, dialihkan jalurnya, atau diganti.
Itulah sebabnya perubahan yang nyata bermula dari bawah. Perubahan yang dipaksakan dari atas tetap bergantung pada otoritas pusat yang memaksakannya. Perubahan yang tumbuh dari bawah dapat menyebar melalui banyak sekali titik mandiri, bertambah kuat melalui hubungan di antaranya, dan semakin sulit dikuasai, ditekan, atau dibalikkan.
Jaringan yang tersebar menjadi tangguh berkat kapasitas cadangan, jalur alternatif, dan kemampuan menyusun ulang diri ketika terjadi kegagalan. Hierarki memusatkan kegagalan bersama dengan kendali. Jaringan dapat menyusun ulang diri melalui hubungan lain, bereksperimen secara bersamaan, dan menghindari gangguan.
Tatanan spontan dapat meluas melalui jaringan: koordinasi berkembang dari banyak bagian yang saling berhubungan, sementara tidak adanya titik kendali yang mutlak diperlukan membuat seluruh struktur lebih mudah menyesuaikan diri, lebih tangguh, dan lebih sulit dikuasai.
Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas menolak keanggotaan yang dipaksakan, keikutsertaan wajib, dan otoritas apa pun yang mencegah orang keluar secara damai. Tak satu kelompok pun berhak menuntut seseorang tetap ikut serta ketika ia tidak lagi menyetujuinya. Orang tetap bebas untuk pergi, mengubah arah, bergabung kembali dengan cara berbeda, dan membentuk pilihan lain ketika kebutuhan serta minat mereka berubah.
Asosiasi bebas bermula dari individu. Masuk ke suatu hubungan, organisasi, atau komunitas bukan berarti menyerahkan otonomi kepadanya. Persetujuan harus terus ada selama keikutsertaan berlanjut; kesepakatan kemarin tidak dapat berubah menjadi klaim permanen atas seseorang esok hari.
Kebebasan untuk keluar tak berarti jika meninggalkan suatu asosiasi membuat orang kehilangan akses pada kebutuhan hidup; asosiasi bebas bergantung pada pilihan lain yang cukup kuat untuk membuat penolakan nyata, bukan sekadar formal.
Pilihan lain itu juga harus dapat diakses saat dibutuhkan: tempat tinggal, cara mencapainya, dan perawatan yang tetap berlanjut selama masa peralihan. Persediaan bersama dan pengaturan untuk menerima orang dapat mewujudkannya sebelum krisis. Tak seharusnya ada orang yang harus membangun ulang penghidupannya seorang diri hanya untuk menolak satu penyedia.
Orang secara alami berkumpul menurut minat, kebutuhan, hubungan, dan tujuan bersama. Kedekatan itu membentuk kelompok yang berasal dari kesesuaian nyata, bukan keanggotaan yang dipaksakan. Seseorang dapat menjadi bagian dari banyak asosiasi sekaligus, masing-masing mencerminkan sisi hidup yang berbeda, tanpa satu pun mengklaim seluruh dirinya.
Tidak semua orang harus mencapai kesepakatan yang sama. Orang dapat berunding, berkompromi, dan menyelesaikan konflik secara damai kasus demi kasus. Ketika tujuan mereka terlalu jauh terpisah, mereka dapat berpisah. Satu asosiasi dapat terbagi menjadi beberapa kelompok, mempertahankan hubungan yang masih berjalan baik, meninggalkan yang tidak lagi berjalan baik, lalu bergabung kembali dalam bentuk yang sama sekali baru.
Ini membuka begitu banyak kemungkinan pengaturan. Kelompok dapat terbentuk, terpecah, saling bertumpang tindih, tersambung kembali, dan berubah arah mengikuti keadaan. Daripada memaksa orang yang tidak cocok membuat satu keputusan, asosiasi bebas memungkinkan jawaban yang berbeda ada pada saat yang sama. ༆ Kemajemukan bentuk muncul dari keragaman manusia yang tanpa batas dan kemampuan mereka menyusun berbagai bentuk asosiasi. Pluralisme menjadi akibat struktural dari kebebasan, bukan sesuatu yang diberikan dari atas.
Ini juga mengubah arti komunitas. Tinggal di wilayah yang sama tidak menjadikan ratusan ribu atau jutaan orang asing satu kesatuan sosial yang bermakna. Komunitas tumbuh dari hubungan, keakraban, tujuan bersama, kedekatan, dan kepedulian timbal balik. Asosiasi setempat yang kuat dapat tetap erat terhubung dengan jaringan yang lebih luas tanpa diserap ke dalam satu otoritas.
Karena itu skala tidak dengan sendirinya memerlukan hierarki. Asosiasi kecil dapat terhubung melalui jaringan mendatar yang saling bertumpang tindih, bekerja sama saat kepentingan mereka bertemu, sambil tetap mandiri dalam hal lain. Informasi, sumber daya, pengetahuan, dan koordinasi dapat bergerak melalui hubungan itu tanpa melewati struktur perintah pusat.
Tidak setiap fungsi perlu terus diorganisasi pada skala yang berlaku sekarang. Kemampuan setempat yang lebih besar dapat mengurangi ketergantungan pada koordinasi jarak jauh. Ketika koordinasi yang lebih luas tetap diperlukan, jaringan dapat memperluas kerja sama lintas wilayah tanpa menjadikan koordinasi itu otoritas tetap atas orang yang terlibat.
Walau semua anggotanya punya suara, badan koordinasi mengklaim otoritas ketika menganggap dirinya berhak menentukan secara umum kegiatan individu dan asosiasi mandiri mana yang wajib tunduk kepadanya.
Jaringan semacam itu tetap terbuka karena orang dapat mengajukan gagasan, bereksperimen, meniru yang berhasil, mengubahnya, atau menciptakan pilihan lain tanpa menunggu izin dari atas. Bentuk yang berhasil menyebar karena diterima secara sukarela. Bentuk yang gagal dapat hilang tanpa menjadi kegagalan yang akibatnya dipaksakan kepada semua orang lain.
Kebebasan untuk keluar membantu menjaga agar hubungan ini tidak mengeras menjadi hak untuk memerintah orang lain. Keluar dapat berarti pergi sepenuhnya, mengurangi keikutsertaan, berganti rekan, membentuk asosiasi sejajar, atau sekadar menolak pengaturan yang tak lagi bekerja. Ketika pergi berarti melepaskan sesuatu yang tidak mudah diganti, atau ketika seseorang mengalami pengucilan yang sama di berbagai asosiasi, kebebasan juga bergantung pada kemampuan menantang atau mengubah kondisi itu, bukan hanya meninggalkannya. Ketika perpisahan damai dihalangi dan keikutsertaan menjadi wajib, asosiasi tidak lagi bebas.
Orang dapat meninggalkan asosiasi tanpa lari dari tanggung jawab atas dampak buruk yang mereka timbulkan atau komitmen yang mereka buat secara bebas dan diandalkan orang lain dengan wajar. Tanggung jawab atas komitmen tidak otomatis membenarkan pemaksaan untuk menepatinya. Arbitrase, pemulihan, pemutusan hubungan, dan tanggapan lain dapat menangani komitmen yang dilanggar sambil tetap terikat pada sengketa tertentu. Tanggung jawab tetap terikat pada dampak buruk atau komitmen tertentu; ia tidak boleh berubah menjadi kepemilikan atas seseorang atau kewajiban umum untuk taat.
Menolak bekerja sama tidak dengan sendirinya merupakan pemaksaan. Menggunakan kendali atas kebutuhan hidup untuk memaksa ketaatan, atau menghalangi akses pada alternatif yang bersedia ditawarkan pihak lain, adalah pemaksaan.
Sebagian dampak buruk tidak bisa dihindari hanya dengan berpisah, terutama ketika akibatnya menyebar atau dibebankan kepada orang yang tidak dapat begitu saja melepaskan diri dari dampaknya, sehingga umpan balik yang semestinya membatasi tindakan merugikan melemah. Desentralisasi tidak berarti setiap tanggapan harus tetap setempat; ketika dampak buruk menimpa orang di berbagai asosiasi atau wilayah, mereka yang terdampak dapat berkoordinasi melintasi batas itu, menyepakati standar bersama, atau melacak dampaknya.
Ketika berpisah tidak dapat mencegah timbulnya dampak buruk atau menghentikan dampak yang terus berlangsung, mereka yang terdampak dapat membela diri, mencari penengah, atau bertindak bersama orang lain untuk menghentikannya. Menghentikan bahaya bersama mungkin memerlukan batas sementara terhadap tindakan yang membahayakan orang lain, bahkan ketika para pihak tidak sepakat dan tanggung jawab individu belum jelas. Batas itu dan pembagian biayanya memerlukan pembenaran tersendiri.
Klaim tentang adanya dampak buruk tidak menyelesaikan sengketa; perlindungan harus tetap terikat pada penghentian dampak buruk tertentu, bukan menjadi dasar kendali yang lebih luas atau tanpa batas akhir. Mereka yang turun tangan tidak kebal dari tantangan; kemampuan mempertanyakan alasan, cara, atau kelanjutan campur tangan tidak boleh bergantung hanya kepada para pelaksananya. Upaya menggugat secara independen harus disertai kekuatan nyata untuk mengubah pembatasan yang tak dapat dibenarkan atau menghentikan campur tangan ketika alasan pembenarannya gugur.
Sebagian masalah akan tetap tak terselesaikan, alih-alih kita menciptakan otoritas permanen yang jaminan penyelesaiannya bergantung pada kekuatan memaksa semua pihak.
Asosiasi bebas tidak menetapkan satu susunan akhir masyarakat. Kekuatannya justru terletak pada membiarkan pertanyaan itu terbuka. Ia memungkinkan orang yang benar-benar bebas dan otonom terus menyusun hubungan mereka sendiri, sehingga terbentuk tatanan sosial dari tak terhitung banyak asosiasi yang bertumpang tindih, bukan satu struktur yang memiliki wewenang atas semuanya.
Saling Bantu
Saling bantu adalah kerja sama melalui timbal balik: orang saling membantu karena kepentingan kita tidak harus bertentangan. Kebutuhan, kemampuan, pengetahuan, sumber daya, dan kesempatan kita berbeda-beda. Dengan berbagi, kedua pihak dapat menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Dunia yang bebas bergerak menjauh dari hubungan yang menguntungkan satu pihak dengan merugikan pihak lain. Kekayaan diciptakan dengan menghasilkan nilai baru. Kerja sama dapat memberi kedua pihak lebih banyak daripada yang dapat mereka hasilkan sendiri, tetapi hubungan itu tidak sungguh menguntungkan keduanya jika keuntungannya bergantung pada pembebanan biaya kepada orang lain. Hubungan yang saling menguntungkan ini menjadi lebih mudah ketika hambatan masuk dan kelangkaan buatan dihapus, sehingga terbuka lebih banyak cara bagi orang untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan satu sama lain.
Timbal balik menguat melalui hubungan yang terus terjalin. Lingkungan dan komunitas yang kuat tumbuh dari persahabatan: orang saling mengenal, peduli pada apa yang terjadi pada sesama, berbagi makanan, alat, keterampilan, pengetahuan, tempat tinggal, waktu, dan dukungan. Ketika orang di sekitar tidak lagi asing satu sama lain, seseorang yang jatuh miskin atau kehilangan tempat tinggal bukan lagi masalah tak terlihat yang diserahkan kepada lembaga jauh. Kebutuhannya terlihat oleh orang yang mengenalnya dan punya alasan untuk peduli.
Hubungan ini dapat tersambung menjadi jaringan saling bantu yang lebih luas, membawa dukungan melampaui orang yang sudah saling kenal dan melipatgandakan apa yang dapat diberikan individu atau lingkungan sendirian. Seseorang punya makanan, yang lain kamar kosong, yang lain dapat memperbaiki sesuatu, dan yang lain lagi dapat mengajar, menanam, membangun, mengangkut, atau merawat. Semakin banyak hubungan ini bertumpang tindih, semakin banyak jalan untuk mencari dukungan dan semakin sedikit orang harus bergantung pada satu lembaga untuk mendapat apa yang mereka perlukan.
Timbal balik tidak menuntut setiap penerima perawatan membalasnya. Bagi orang yang tidak dapat pergi atau mengatur dukungan sendiri, kebebasan bergantung pada perawatan yang tidak dikendalikan satu orang atau satu hubungan.
Adanya beberapa orang yang sama-sama merawat seseorang serta hubungan yang mandiri membuat penyalahgunaan lebih mudah ditantang dan perawatan lebih mudah dilanjutkan saat keadaan berubah. Ketika seseorang tidak dapat memberi persetujuan berdasarkan informasi yang cukup, perawatan sebaiknya mengikuti keinginan yang ia ungkapkan sejauh mungkin dan tetap dibatasi oleh kebutuhannya. Ketergantungan tidak memberi siapa pun hak memiliki orang itu.
Saling bantu yang dapat diandalkan juga perlu dipelihara. Orang punya alasan menjaga layanan yang mereka gunakan, pedulikan, atau mungkin butuhkan nanti. Penyediaan yang terus berlanjut bergantung pada sumbangan tenaga dan sumber daya secara berkala, persediaan bersama, dan bantuan pengganti bagi pemberi perawatan atau petugas pemeliharaan yang kelelahan.
Beban merawat tidak selalu sama bagi setiap orang pada waktu yang sama, tetapi jaringan yang lebih luas dapat membagi beban yang tidak merata itu ke lebih banyak orang, sumber daya, dan hubungan alih-alih meninggalkannya pada satu orang saja. Saat terjadi kekurangan, membuat kebutuhan dan persediaan yang ada terlihat jelas memungkinkan orang merundingkan prioritas dan mencari bantuan di luar jaringan setempat. Kebutuhan tidak dapat menciptakan sumber daya yang tidak ada, tetapi kelangkaan juga tidak dapat menciptakan hak untuk ditaati.
Saling bantu bukan pengorbanan diri. Kita berkembang ketika orang di sekitar kita dapat berkembang. Orang yang lebih aman, sehat, bebas, dan mampu membuat hidup kita sendiri lebih aman, lebih kaya, dan lebih bebas. Kesejahteraan individu dan bersama saling memperkuat, bukan berada di sisi berlawanan dari suatu persamaan.
Dominasi dan balas dendam menciptakan kembali kondisi yang memicu konflik, bukan perdamaian. Saling bantu menjawab penderitaan dengan kepedulian, kasih, dan harapan sambil membangun kondisi material yang membuat penderitaan lebih kecil kemungkinannya untuk berulang.
Kita menciptakan dunia damai yang ingin kita tinggali dengan mengambil langkah pertama untuk membangunnya: saling membantu sekarang, memperkuat hubungan di sekitar kita, dan membuatnya cukup kuat agar tak seorang pun harus menghadapi dunia sendirian.
Persahabatan
Komunitas yang kuat bermula dari persahabatan, bukan gagasan abstrak tentang komunitas. Persahabatan bersifat pribadi, disengaja, sukarela, dan dibentuk langsung oleh orang di dalamnya. Suatu badan yang lebih besar tidak berhak atas hubungan itu hanya karena dua orang berada di tempat, kelompok, atau perjuangan yang sama.
Teman tidak memerlukan otoritas luar untuk menentukan hubungan mereka atau memaksa mereka mencapai mufakat. Mereka sendiri yang memutuskan cara berhubungan, batas masing-masing, dan kapan hubungan perlu berubah atau berakhir. Kebebasan berasosiasi hanya sedikit artinya tanpa kebebasan memutuskan hubungan.
Persahabatan juga punya batas alami. Ia tidak dapat berkembang menjadi satu hubungan yang mencakup semua orang, dan itu bagian dari kekuatannya. Lingkaran pertemanan dapat tetap kecil sambil bertumpang tindih dan tersambung ke luar, sehingga kerja sama menyebar tanpa mengikat semua orang ke dalam satu tubuh sosial. Jaringan yang lebih luas memungkinkan orang yang bukan teman untuk berkoordinasi tanpa menjadikan jaringan itu satu tubuh sosial.
Tujuannya adalah menjalin persahabatan, bukan membangun komunitas. ༆ Biarkan komunitas yang lebih kuat tumbuh dari hubungan yang sungguh dipilih orang.
Nirkekerasan
Nirkekerasan adalah strategi yang lebih layak dipilih untuk membangun dunia yang bebas. Cara yang dipakai untuk membangun dunia baru membentuk kebiasaan, insentif, organisasi, dan sebaran kekuasaan yang dihasilkannya. Kekerasan politik mengubah struktur insentif perlawanan itu sendiri, memberi ganjaran pada kerahasiaan, perintah, pemaksaan, dan organisasi yang mampu memusatkan daya paksa.
Kekerasan politik dapat menguatkan struktur yang hendak ditantangnya. Ketika melihat kekerasan, orang menjadi takut. Ketakutan mendorong mereka kepada lembaga yang menjanjikan perlindungan: polisi, militer, dan pemerintah. Karena itu kekerasan dapat memperkuat tangan penegak hierarki yang sedang ditantang, memberi pemerintah alasan lebih besar untuk meningkatkan tindakan kepolisian, pengawasan, penindasan, dan penggunaan kekuatan, sambil membuat penduduk yang lebih luas berpaling dari para penantangnya.
Pemerintah sudah memiliki keunggulan yang luar biasa dalam kekerasan terorganisasi. Ia mengendalikan polisi, militer, penjara, sistem intelijen, senjata, dan jaringan logistik yang dibangun untuk menegakkan otoritasnya. Kekerasan memungkinkan pemerintah menentukan syarat pertarungan dan memakai kekuatan terbesarnya.
Nirkekerasan menyerang hierarki dari arah lain. Aksi langsung, pembangkangan sipil, pemogokan, penolakan, saling bantu, kemampuan mencukupi kebutuhan sendiri, membangun komunitas, pilihan lain yang dibangun, dan penarikan keikutsertaan menyerang ketergantungan yang memungkinkan lembaga terpusat bekerja. Pemerintah tidak berjalan dengan kekuatan saja; ia bergantung pada kerja sama yang terus berlangsung.
Harapan juga merupakan kekuatan politik. Tujuannya bukan meneror orang agar ikut berjuang, melainkan mengilhami mereka dengan kemungkinan dunia yang damai dan bebas, tempat orang dapat hidup baik, mengejar impian, mengembangkan kemampuan, dan saling membantu. ༆
Harapan menjadi nyata melalui pengalaman. Persahabatan, saling bantu, otonomi, kemampuan mencukupi kebutuhan sendiri, kebun, kerja sama, aksi langsung, dan alternatif yang sudah berfungsi membuat orang merasakan sebagian dari cara hidup lain sejak sekarang. Membangun bentuk masa depan sejak sekarang menyebarkan kemampuan sebelum otoritas pusat lenyap. Ketika orang makin mampu memenuhi kebutuhan melalui asosiasi bebas, saling bantu, pengetahuan mandiri, dan pilihan lain, ketergantungan pada lembaga terpusat mulai surut.
Revolusi dengan kekerasan berisiko bergerak ke arah sebaliknya. Menghancurkan pemerintah yang ada tidak dengan sendirinya menghancurkan struktur kekuasaan yang terkonsentrasi. Organisasi bersenjata memusatkan senjata, kerahasiaan, perintah, intelijen, logistik, dan kemampuan operasional. Jika pemerintah yang ada runtuh sebelum kekuatan dan kemampuan tersebar, organisasi yang paling mampu memakai kekerasan juga paling siap mengisi kekosongan kekuasaan. Penguasanya berubah sementara struktur itu tetap tersedia untuk direbut.
Nirkekerasan bukan berarti pasifisme atau menolak pembelaan diri. Penggunaan kekuatan untuk membela diri mungkin diperlukan ketika bahaya yang langsung mengancam tidak dapat dihentikan dengan cara lain. Tujuannya menghentikan dominasi, bukan menjadikan kekuatan sebagai prinsip pengorganisasian pembebasan. Kekerasan tetap jalan terakhir.
Kemampuan membela diri dapat dipertahankan sedangkan pemakaiannya tetap bersifat defensif dan sementara. Keseimbangan kekuatan menjaga kemampuan membela diri tetap tersebar dan dapat ditantang, sementara asosiasi bebas mencegah penggunaan kekuatan sementara berubah menjadi struktur otoritas permanen.
Ancaman yang berlarut memerlukan persiapan, persediaan yang dapat diandalkan, informasi bersama, dan koordinasi lintas asosiasi. Orang dapat mempercayakan tugas pertahanan tertentu kepada orang yang berpengalaman sambil membatasi peran itu pada tugasnya dan membukanya untuk ditantang. Bahayanya sangat besar dalam pertahanan karena kemampuan pertahanan itu sendiri dapat menjadi konsentrasi kekuasaan baru. Pembedaan itu tetap nyata hanya selama senjata, persediaan, dan dukungan dari luar berada di luar kendali eksklusif satu kelompok mana pun.
Pertahanan yang tersebar membawa bahaya lain: persiapan satu asosiasi dapat membuat asosiasi lain merasa terancam, yang tanggapannya kemudian tampak membenarkan ketakutan asosiasi pertama. Jika mungkin, hubungan langsung, pemeriksaan mandiri terhadap klaim yang meresahkan, dan pembatasan pengerahan secara timbal balik dapat memberi kedua pihak jalan untuk mundur tanpa menyerahkan kemampuan membela diri.
Koordinasi darurat harus tetap dibatasi pada tugasnya dan terbuka untuk ditantang. Pertahanan yang tersebar masih dapat dikalahkan; komando terpusat pun tidak menjamin kelangsungan hidup.
Kebebasan seharusnya tidak baru tiba setelah perjuangan. Kebebasan seharusnya sudah tampak dalam cara perjuangan itu dijalani.
Kaidah 3,5%
Perubahan sistemik tidak menuntut seluruh penduduk bangkit serentak.
Penelitian Erica Chenoweth dan Maria Stephan menemukan bahwa kampanye besar nirkekerasan yang menuntut perubahan rezim, kemerdekaan, atau akhir pendudukan antara tahun 1900 dan 2006 memiliki tingkat keberhasilan lebih dari dua kali lipat dibandingkan kampanye kekerasan.
Kaidah 3,5% kemudian muncul dari penelitian itu: dalam kumpulan data awal, tak satu pun kampanye nirkekerasan gagal setelah berhasil menggerakkan secara aktif sedikitnya 3,5% penduduk pada puncaknya.
Pemerintah tidak berjalan dengan kekuatan polisi dan militer saja. Ia bergantung pada orang di seluruh masyarakat yang terus bekerja, menaati, menjalankan perintah, memindahkan sumber daya, menjaga infrastruktur, dan menerima otoritasnya. Pemerintah bergantung pada kerja sama jauh lebih banyak orang daripada mereka yang benar-benar memerintah.
Peserta aktif hanyalah satu bagian dari tekanan itu. Ketika keikutsertaan dan penolakan meluas, kerja sama menjadi makin tak pasti. Pekerja berhenti bekerja sama. Perintah tak dijalankan. Pendukung berpaling. Orang dalam berhenti menegakkan arahan. Lembaga mulai gagal. Keseimbangan kekuatan bergeser karena struktur kehilangan kerja sama manusia yang diperlukan untuk mempertahankannya.
Gerakan nirkekerasan dapat menjangkau jauh lebih banyak peserta karena perlawanan tidak menuntut semua orang menjadi tentara. Orang dapat mogok, memboikot, menolak, menarik dukungan, menyediakan sumber daya, memberi tempat berlindung, atau sekadar berhenti bekerja sama.
Penelitian kemudian menemukan bahwa kampanye nirkekerasan menjadi kurang berhasil setelah 2010. Chenoweth menunjuk pada penyesuaian strategi pemerintah untuk melawannya dan pada gerakan yang makin bergantung pada pengerahan cepat tanpa organisasi, strategi, dan daya tahan yang diperlukan untuk terus menekan. Pengerahan dapat membuka jendela kesempatan, tetapi tanpa organisasi dan kemampuan praktis yang bertahan, jendela itu dapat menutup sebelum kondisi perubahan yang bertahan dibangun.
Kaidah 3,5% bukan hukum yang berlaku umum ataupun ambang yang menjamin keberhasilan. Sebagian besar gerakan nirkekerasan yang berhasil tidak pernah mencapai 3,5%, dan penelitian berikutnya menemukan kasus yang tampaknya merupakan pengecualian. Ini pola sejarah, bukan rumus keberhasilan.
Pelajaran dari kaidah 3,5% bukanlah bahwa tepat 3,5% penduduk dapat memaksa pemerintah mana pun menyerah.
Pelajarannya adalah perubahan tidak memerlukan semua orang tersadar serentak.
Aksi Langsung
Aksi langsung berarti menangani masalah secara langsung alih-alih meminta otoritas menyelesaikannya untuk kita. Mengupayakan reformasi melalui otoritas menyerahkan perubahan ke atas. Aksi langsung mempertahankan kemampuan bertindak pada orang yang terdampak.
Yang kita lihat bukan sekadar korupsi. Sistem mengikuti insentif dan konsentrasi kekuasaan yang tertanam di dalamnya. Mengganti wakil mungkin mengubah keputusan, tetapi membiarkan perangkat otoritas tetap utuh. Politik perwakilan mengubur sebab dan akibat di bawah lapisan birokrasi: orang bertindak, lalu menunggu lembaga memutuskan hasilnya. Aksi langsung menciptakan perubahan di sini dan sekarang. Orang melihat hasilnya, mengujinya, lalu membangun di atasnya.
Aksi langsung tidak memerlukan izin. Orang tidak memerlukan persetujuan dari atas untuk bekerja sama, menyelesaikan masalah, menarik dukungan, atau membuat pilihan lain. Perubahan dapat bermula di mana pun orang sudah mampu bertindak, lalu menyebar dari bawah ketika orang lain mengadopsi yang berhasil.
Kekuatan berada di tangan masyarakat akar rumput karena hierarki tidak dapat menjalankan dirinya sendiri. Pemogokan langsung menunjukkan ketergantungan itu. Mogok umum dapat menghentikan banyak bagian penting dari perangkat itu sekaligus. Pemogokan tanpa persetujuan pimpinan serikat menunjukkan bahwa pekerja dapat memakai kekuatan bersama tanpa menunggu izin lembaga yang mewakili mereka.
Aksi langsung mengubah ketergantungan itu menjadi daya ungkit. Ada perbedaan antara menentang suatu struktur dan menarik sesuatu yang dibutuhkannya untuk bekerja. Penolakan dan penarikan mengubah hubungan itu sendiri.
Aksi langsung membangun pilihan lain yang membuat hierarki kurang diperlukan. Saling bantu, kemampuan mencukupi kebutuhan sendiri, pertukaran mandiri, koperasi, dan lembaga sejajar memberdayakan orang untuk memenuhi kebutuhan mereka secara lebih langsung.
Kedua sisi saling memperkuat. Hentikan mesinnya sambil membangun pilihan lain. Perlawanan mengurangi kemampuan hierarki. Pembangunan mengurangi ketergantungan pada hierarki.
Orang dapat menarik ketaatan sambil mempertahankan pekerjaan yang diperlukan melalui kerja sama langsung dengan mereka yang bergantung padanya. Gangguan sementara dapat memberi daya ungkit, tetapi tetap harus ditanya siapa yang menanggung biayanya. Ketika daya ungkit itu bergantung pada menahan hal-hal yang sangat dibutuhkan orang yang hampir tidak mengendalikan struktur yang ditantang, perlawanan membebankan biaya tekanannya kepada mereka. Penarikan berkelanjutan dari fungsi yang sangat diperlukan memerlukan jalur pengganti atau akses yang terus ada. Perlawanan yang membuat alternatifnya sendiri kekurangan sumber daya memperkuat tuntutan agar komando dipulihkan.
Pembangunan juga dapat menimbulkan tekanannya sendiri. Setelah orang bergantung pada sesuatu yang sudah dibangun, pengelolanya akan lebih banyak kehilangan jika terjadi gangguan dan mungkin menjadi lebih berhati-hati menghadapi pertentangan. Sebaliknya, perlawanan dapat membahayakan pilihan lain yang ingin mereka pertahankan. Ketegangan ini berkurang ketika pilihan lain dapat bertahan melewati gangguan berkat cadangan dan jalur lain, dan ketika perlawanan menarik apa yang diperlukan hierarki tanpa menghancurkan kemampuan yang diandalkan orang.
Aksi langsung menjadi cara mewujudkan masa depan sejak sekarang karena orang membangun dunia yang bebas melalui hubungan dan lembaga yang mereka ciptakan saat ini, bukan menunda kebebasan sampai sesudah kemenangan di masa depan.
Tak satu tindakan pun harus mengubah seluruh sistem sendirian. ༆ Setiap tindakan yang berhasil dapat menyelesaikan sesuatu sekarang, meningkatkan otonomi, dan membuka tindakan selanjutnya. Ketika kemampuan ini terhubung dan bertambah dari bawah, keseimbangan kekuatan bergeser.
Kebun
Dunia yang bebas tidak harus dimulai di mana-mana sekaligus. Ia bermula di mana pun orang merebut kembali kemampuan memenuhi kebutuhan diri sendiri dan sesama. Tanamlah bahan pangan. Pelajari keterampilan yang berguna. Berbagi alat. Bekerjalah dengan orang yang Anda percayai. Dukung produsen setempat dan koperasi. Mulailah dari sesuatu yang berguna, dapat bertahan, dan menyebar.
Kebun memiliki makna harfiah sekaligus makna struktural. Kebun mengubah tanah, pengetahuan, kerja, dan kerja sama menjadi sesuatu yang dapat dipakai langsung oleh orang. Bengkel bersama memberi orang tempat untuk membuat dan memperbaiki barang yang mereka perlukan. Pasar petani mempertemukan penanam dan pembeli dalam pertukaran langsung. Masing-masing memendekkan jarak antara kebutuhan dan orang yang dapat memenuhinya.
Intinya bukan model ekonomi tertentu.
Kemampuan mencukupi kebutuhan sendiri menguat melalui kerja sama, bukan hidup terpisah dari orang lain. Satu orang tidak dapat melakukan semuanya dan seharusnya tidak perlu. Orang mengembangkan keterampilan yang berbeda, membagi pekerjaan, menukar hasil, dan membantu di bidang yang paling mereka kuasai. Ketika kebun terhubung dengan dapur, bengkel, koperasi, produsen setempat, dan layanan lingkungan, proyek yang terpisah mulai membentuk jaringan kemandirian praktis yang lebih luas. Semakin banyak pengetahuan, alat, dan kemampuan produksi yang dimiliki orang sendiri, semakin banyak pilihan mereka atas hubungan yang menopang hidup mereka.
Bangun secara setempat. Kenali tetangga. Bertemanlah sambil melakukan hal yang berguna bersama. Orang dapat melihat apa yang kurang, apa yang terus gagal, dan apa yang benar-benar dibutuhkan sesama. Masalah lebih mudah ditangani ketika orang yang mengalaminya dapat berbicara langsung dengan yang mampu membantu.
Hubungan ini dapat tumbuh ke luar tanpa tumbuh ke atas. Kelompok yang berbeda dapat mengkhususkan diri sambil tetap otonom, terhubung langsung ketika kerja sama membantu. Tak satu organisasi pun harus menyediakan segalanya atau mengendalikan keseluruhan. Banyak asosiasi yang bertumpang tindih menjadi lebih kuat justru karena perbedaannya: banyak keterampilan, hubungan, sumber, dan jalan menghindari kegagalan.
Yang penting bukan apakah sesuatu menyebut dirinya alternatif. Pilihan lain pun mempunyai struktur insentif, jadi pertanyaannya tetap sama: apa yang didorongnya dalam praktik? Koperasi yang menciptakan lagi hubungan perintah hampir tidak mengubah apa-apa. Ujiannya praktis: dapatkah orang mengubah cara kerja, menolak syaratnya, atau pergi tanpa kehilangan satu-satunya jalan untuk memenuhi kebutuhan dasar?
Kebun yang hanya mengandalkan satu sumber air, atau bengkel yang hanya mengandalkan pengetahuan satu orang, tetap rentan pada titik ketergantungan itu. Keterampilan yang dapat diajarkan, cara yang dapat diulang, alat bersama, dan persediaan dari lebih dari satu sumber memungkinkan pekerjaan yang bermanfaat terus berjalan tanpa membuat kelangsungannya bergantung mutlak pada siapa pun.
Tidak perlu memutus hubungan sepenuhnya dengan dunia yang ada. Mulailah dari apa pun yang dapat digeser mendekati hubungan langsung: satu sumber pangan, satu keterampilan, satu alat, satu layanan, satu proyek koperasi, satu persahabatan yang lebih kuat. Setiap pergeseran kecil, tetapi menyisakan sesuatu yang dapat menjadi dasar langkah berikutnya. Lambat laun proyek-proyek terpisah menjadi jaringan, jaringan menjadi tangguh, dan ketergantungan mulai terurai.
Kebun tidak perlu izin untuk menjadi hutan. Ia tumbuh ketika ada ruang, bercabang ketika kondisi memungkinkan, terhubung dengan yang sudah hidup, dan menghasilkan benih bagi pertumbuhan berikutnya. Bangun dunia yang bebas dengan cara yang sama: secara lokal, langsung, damai, dan meluas dari akar rumput.
Jendela Kesempatan
Dunia yang bebas dibangun sebelum momen revolusi, bukan sesudahnya.
Menyingkirkan orang yang mengendalikan lembaga terpusat tidak menyebarkan kemampuan yang sebelumnya dikuasai lembaga itu. Pangan tetap harus diangkut. Orang tetap memerlukan air bersih, obat, tempat tinggal, komunikasi, transportasi, perlindungan, dan cara menyelesaikan konflik. Jika kemampuan itu tetap terkonsentrasi, siapa pun yang paling cepat memulihkannya mewarisi kekuasaan yang sangat besar.
Karena itu pekerjaan yang menentukan terjadi sebelum titik balik yang tampak.
Masyarakat bebas tumbuh perlahan melalui hubungan, keterampilan, lembaga, dan infrastruktur yang sudah bekerja di luar komando terpusat. Jaringan saling bantu, sistem pangan setempat, koperasi, komunikasi mandiri, energi tersebar, kemampuan melakukan perbaikan, pengetahuan terbuka, jaringan perawatan, penyelesaian konflik, dan pertahanan diri yang terdesentralisasi memindahkan kemampuan praktis dari lembaga terpusat ke tangan orang yang bergantung padanya.
Itulah arti strategis mewujudkan masa depan sejak sekarang: membangun yang baru di dalam cangkang yang lama. Keretakan yang tampak dapat terjadi tiba-tiba. Kemampuan untuk bertahan melewatinya berkembang perlahan.
Peralihan tidak menuntut pemutusan total dalam satu langkah. Lembaga lama dapat tetap dominan sementara hubungan baru tumbuh di sampingnya. Sebagian fungsi dapat cepat terdesentralisasi, sementara yang lain tetap terpusat lebih lama. Orang masih dapat menggunakan celah dalam struktur yang ada jika itu menambah otonomi praktis atau kemampuan mereka untuk mengorganisasi diri di luarnya. Celah itu dapat dipakai tanpa menjadikan struktur yang ada sebagai alat perubahan itu sendiri. Dunia yang sedang tumbuh pada awalnya akan parsial, penuh kompromi, dan terjalin dengan dunia yang digantikannya.
Jika pilihan lain bergantung pada lembaga terpusat yang hendak digantikannya, ia dapat diserap tanpa mengubah keseimbangan kekuatan.
Sebuah pilihan lain mungkin menyediakan sesuatu yang dibutuhkan orang sambil tetap bergantung pada tanah, persediaan, infrastruktur, atau sumber daya lain yang dikendalikan struktur lama. Susunan itu memungkinkan struktur lama melepas sebagian bebannya sambil mempertahankan sebagian besar daya ungkit yang muncul dari ketergantungan tersebut. Mengambil alih suatu fungsi bukan berarti menghapus ketergantungan; keseimbangan hanya bergeser ketika orang mendapat kemampuan lebih besar untuk terus berjalan tanpa struktur lama mengendalikan hal yang mereka andalkan.
Pilihan lain dapat menghadapi penindasan ketika mulai mampu menggantikan fungsi terpusat. Ketika pilihan lain mengurangi ketergantungan pada lembaga terpusat, lembaga itu juga dapat memiliki insentif yang lebih kuat untuk membendungnya. Jika penindasan masih dapat memutus setiap sumber pasokan, tersebar saja tidak cukup melindungi. Pengetahuan dan dukungan bersama di antara jaringan yang mandiri memungkinkan pekerjaan berlanjut ketika satu tempat atau organisasi hilang; tidak tersisa satu struktur tunggal yang jika disingkirkan dapat menghapus pilihan lain itu.
Mewujudkan masa depan sejak sekarang membangun jaring pengaman agar runtuhnya lembaga tidak menjadi runtuhnya masyarakat.
Tujuannya bukan membangun satu kawasan yang dianggap murni di luar masyarakat. Tujuannya memperbanyak ruang tempat orang dapat menyelesaikan masalah melalui hubungan yang berbeda, menghubungkan ruang itu secara mendatar, lalu perlahan memindahkan lebih banyak kehidupan sehari-hari ke dalamnya. Setiap ketergantungan yang diganti dengan pilihan sukarela melemahkan daya ungkit sistem lama. ༆ Setiap hubungan saling mendukung menambah kemampuan orang untuk menolak.
Peralihan dapat bertahap dalam pembangunannya dan cepat dalam akibatnya.
Jendela kesempatan terbuka ketika lembaga terpusat kehilangan cukup kemampuan atau keabsahan sehingga tatanan yang dahulu dianggap permanen kini bisa dirundingkan. Ini tidak memerlukan keruntuhan seluruh peradaban. Rantai pasokan putus. Pemerintah kehilangan keabsahan. Perusahaan meninggalkan sebuah kota. Jaringan listrik gagal. Mata uang menjadi tak dapat diandalkan. Pemogokan menghentikan layanan biasa. Suatu monopoli tidak lagi mampu menyediakan sesuatu yang diandalkan orang. Sistem terpusat gagal secara tidak merata, menurut tempat, sektor, dan fungsi.
Setiap kegagalan membuka ruang bagi pilihan lain untuk mengambil sebagian hal yang tidak lagi dapat disediakan struktur lama.
Celah semacam ini dapat muncul berulang kali. Lembaga sejajar tumbuh ketika keadaan relatif stabil. Sistem terpusat melemah. Pilihan lain yang sudah ada mengambil sebagian fungsinya. Pilihan itu menjadi stabil, belajar, terhubung, lalu menghadapi krisis berikutnya dengan kemampuan lebih besar. Hierarki lama mungkin bertahan, tetapi setiap siklus dapat membuat orang kurang bergantung padanya.
Ini bukan strategi menunggu keruntuhan. Ini persiapan menghadapi kondisi yang tak dapat diperkirakan secara andal oleh siapa pun.
Ketika lembaga terpusat melemah, kebebasan tidak otomatis muncul. Krisis menghasilkan ketakutan, kelangkaan, ketidakpastian, dan tuntutan akan tatanan yang dapat diandalkan. Kondisi ini dapat memperkuat saling bantu, tetapi juga dapat memperkuat fasisme, militerisme, kejahatan terorganisasi, otoritarianisme agama, atau pemerintah baru yang menjanjikan pemulihan stabilitas.
Kekosongan kekuasaan adalah kebutuhan akan fungsi-fungsi yang tidak lagi dijalankan secara andal. Apa yang mengisinya bergantung pada siapa yang dapat memenuhi kebutuhan itu.
Siapa pun yang dapat menyediakan pangan, obat, komunikasi, transportasi, perlindungan, dan infrastruktur yang bekerja mendapat pengaruh sangat besar. Jika hanya organisasi otoriter yang memiliki kemampuan itu, orang yang ketakutan dapat menerima perintah karena hierarki tampak sebagai satu-satunya struktur yang masih bekerja.
Itulah sebabnya mewujudkan masa depan sejak sekarang juga merupakan persiapan menghadapi pengganti yang otoriter. Lembaga sejajar yang sudah berkembang sebelum krisis memberi orang tempat lain untuk dituju. Keterampilan yang tersebar, hubungan yang sudah ada, jaringan yang bekerja, dan pengalaman bekerja sama tanpa perintah mengurangi kekosongan yang kalau tidak akan muncul dari runtuhnya pusat.
Tanpa pilihan lain itu, keruntuhan tidak menghapus ketergantungan. Ia memperparahnya.
Pilihan lain juga harus benar-benar berfungsi. Jika ikut serta memerlukan waktu luang, uang, atau rasa aman, keikutsertaan paling sulit bagi orang yang sudah berada di bawah tekanan terbesar. Kebanyakan orang tidak akan menerima sebuah filsafat utuh sebelum ikut serta. Mereka mungkin bergabung karena makanan terjangkau, pengasuhan anak dapat diandalkan, lingkungan lebih aman, bengkel menghemat uang, atau orang-orang yang terlibat menghormati martabat mereka. Asosiasi bebas, saling bantu, dan tatanan spontan menjadi argumen yang lebih kuat ketika orang dapat mengalaminya sendiri.
Ukurannya praktis: apakah pilihan lain itu memenuhi kebutuhan nyata sambil meningkatkan otonomi dan menyebarkan kemampuan?
Proyek yang tidak dapat berjalan di bawah tekanan tidak akan menopang orang melewati krisis. Proyek yang bekerja dengan memusatkan kendali dapat begitu saja menjadi hierarki berikutnya. Pilihan lain hanya bekerja jika caranya menjaga otonomi dan asosiasi bebas.
Uji dahulu penggantinya sebelum mengandalkannya: dapatkah penyediaan berlanjut ketika pendanaan berhenti, pemasok gagal, atau orang penting pergi? Kerusakan biasa dan pemindahan fungsi yang nyata memperlihatkan apa yang masih bergantung pada lembaga terpusat. Keruntuhan mendadak dapat tiba sebelum pekerjaan itu cukup. Maka menjaga persediaan, pemeliharaan, dan perawatan lebih penting daripada menyatakan diri mandiri; ketergantungan sementara tidak menciptakan hak permanen untuk memberi perintah.
Proses ini berjalan bersamaan: bangun kemampuan yang memenuhi kebutuhan sekarang sambil menggunakan kemampuan itu untuk mengurangi ketergantungan pada dominasi. Tanpa upaya membangun, perlawanan dapat meninggalkan kekosongan. Tanpa perlawanan, pilihan lain dapat dikurung dalam sistem yang ada.
Tujuannya membuat lembaga terpusat makin tidak diperlukan.
Fungsi dapat berpindah satu demi satu. Pengetahuan dapat lepas dari kendali pusat. Saling bantu sementara dapat menjadi infrastruktur sosial permanen. Jalur pasokan informal dapat menjadi jaringan yang bertahan. Komunitas dapat mempertahankan susunan yang bekerja selama keadaan darurat. Bahkan proyek yang gagal dapat meninggalkan keterampilan, hubungan, alat, dan pengetahuan yang memperkuat percobaan berikutnya.
Apa yang sudah dibangun orang tidak menentukan batas apa yang sanggup mereka bangun. Membebaskan kecerdikan manusia memicu inovasi, membuat hal yang dahulu tampak mustahil menjadi terjangkau.
Keberhasilan mungkin tidak datang sebagai pemerintah yang jatuh atau bendera yang dikibarkan di atas gedungnya. Ia dapat tampak sebagai menurunnya arti penting lembaga terpusat secara bertahap dalam jangka panjang ketika fungsi bergunanya berpindah ke tempat lain.
Kemenangan yang menentukan bukan merebut perangkatnya.
Kemenangan itu adalah membuat perangkatnya tidak diperlukan.
Kapan celah besar berikutnya muncul tetap tidak pasti. Sistem dapat bertahan melewati ketidakstabilan, menyerap perlawanan, mengganti pemimpin, memindahkan biaya, melakukan reformasi, atau menindas. Strategi yang bergantung pada ramalan keruntuhan rapuh.
Mewujudkan masa depan sejak sekarang tidak memerlukan ramalan. Jika sistem yang ada bertahan, hubungan dan kemampuan yang mandiri memperbaiki hidup saat ini. Jika sistem itu perlahan melemah, pilihan lain dapat mengambil fungsi yang ditinggalkannya. Jika krisis datang berulang, setiap celah dapat memperkuat masyarakat sejajar. Jika terjadi keretakan yang lebih besar, jaringan yang telah memiliki persediaan, keterampilan, dan hubungan kerja memberi orang pilihan yang dapat mencegah kekosongan diisi otoritas terpusat baru.
Karena itu jendela kesempatan bukan sesuatu yang ditunggu.
Kita membangun ke arahnya.
Dunia yang bebas tumbuh saat hierarki masih tampak permanen. Setiap kebun, persahabatan, koperasi, keterampilan, jaringan, tindakan saling bantu, dan sumber kemampuan praktis yang mandiri menciptakan tempat lain bagi orang untuk bertindak tanpa menunggu izin. Ketika pilihan ini saling terhubung, ketergantungan terurai dan keseimbangan kekuatan mulai terbentuk.
Ketika jendela berikutnya terbuka, kebebasan tidak perlu bermula dari nol.
Dunia yang bebas akan menanti.
Vox Libera
Titik Tolak Dasar
“Tidak ada yang lebih berbahaya daripada pandangan dunia yang dogmatis—tidak ada yang lebih membatasi, lebih menutup mata terhadap inovasi, atau lebih merusak keterbukaan terhadap hal baru.” — Stephen Jay Gould
“Penting untuk menghapus dogmatisme yang tidak disadari, yang membuat orang mengira cara mereka melihat kenyataan adalah satu-satunya cara yang waras untuk memandang dunia. Tujuan saya adalah mencoba membawa orang ke dalam keadaan agnostisisme umum, bukan hanya agnostisisme tentang Tuhan, melainkan tentang segala hal. Jika seseorang hanya mampu melihat segala sesuatu menurut sistem kepercayaannya sendiri, pada akhirnya ia hampir tidak dapat mendengar, berbicara, atau melihat. Kita hanya bisa melihat orang lain ketika kita mampu melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya. Itulah ontologi gerilya—meruntuhkan pandangan satu model dan memberi orang sudut pandang berbagai model.” — Robert Anton Wilson, wawancara “Searching for Cosmic Intelligence” dengan Jeffrey Elliot (1980)
“Istilah dan gagasan tertentu dapat disebut ‘anti-konsep’. Istilah itu justru mengaburkan pemahaman kita, bukan mempermudahnya, sehingga konsep lain yang sah lebih sulit dipahami. Salah satu jenis anti-konsep yang penting adalah yang disebut ‘paket gabungan’, istilah yang maknanya menyembunyikan anggapan bahwa beberapa hal pasti berjalan bersama padahal kenyataannya tidak.” — Roderick T. Long
“Dengan kata lain, tidak ada satu pola tunggal. Satu-satunya hal yang konsisten adalah perubahan itu sendiri, dan kesadaran yang kemudian muncul akan berbagai kemungkinan susunan masyarakat.” — David Graeber dan David Wengrow, The Dawn of Everything
Struktur Insentif
“Manusia, seperti semua makhluk hidup, menyesuaikan diri dan menjadi terbiasa dengan kondisi tempat ia hidup, lalu mewariskan kebiasaan yang diperolehnya. Karena itu, lahir dan hidup dalam perbudakan sebagai keturunan dari banyak generasi budak, ketika mulai berpikir manusia percaya bahwa perbudakan adalah syarat pokok kehidupan; kebebasan tampak mustahil baginya.” — Errico Malatesta
“Sulit membuat seseorang memahami sesuatu ketika gajinya bergantung pada ketidakpahamannya!” — Upton Sinclair, I, Candidate for Governor: And How I Got Licked (1935)
“Sejauh ini kita menganalisis insentif melalui teori pilihan publik, yang menganggap individu dalam arena politik pada dasarnya sama dengan individu di luarnya. Tetapi anggapan ini mungkin pada akhirnya terlalu optimistis mengenai politik. Sebab penyaringan oleh lembaga politik akhirnya memilih orang yang tertarik pada kedudukan berkuasa. Orang baik dan berperikemanusiaan tidak ingin bekerja sebagai mandor di perkebunan budak. Untuk alasan yang sama, mereka yang menghabiskan karier sebagai sipir penjara, polisi, jaksa, petugas patroli perbatasan, jenderal, dan presiden cenderung merasa nyaman menjalankan kekuasaan diskresioner dan otoritas yang penuh kekerasan atas orang lain. Bahkan jika orang yang berprinsip mengisi jabatan itu untuk sementara, mereka mungkin segera digantikan oleh orang ambisius yang bersedia mengubah moralnya demi memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Maka sistem kekuasaan menciptakan penyaringan lembaga dan efek pemilihan dengan satu akibat sederhana yang menghancurkan: yang terburuk naik ke puncak.” — Nathan Goodman, Abolition: An Economist’s Perspective ๖
“Pekerja sekarang dibebani beragam peraturan, pajak, hukum kekayaan intelektual, dan subsidi usaha yang secara keseluruhan menghambat masuknya calon pemberi kerja alternatif dan peluang untuk bekerja mandiri.” — Sheldon Richman
“Dalam kenyataan, sistem kapitalis ditentukan oleh keberadaan monopoli yang direstui negara sebagai unsur struktural.” — Eric Fleischmann
“Lebih jauh, monopoli pemerintah atas alat tukar adalah kekuasaan memakai utang alih-alih kemampuan membayar sebagai sarana kredit untuk mempermudah pertukaran, dan melalui monopoli itu pemerintah berdaya mencegah pertukaran sampai pungutan istimewa terlebih dahulu dipenuhi.” — Dyer D. Lum
“Hari ini, tak seorang pun melihat, atau mau melihat, bahwa pada zaman kita perbudakan sebagian besar orang bertumpu pada pajak yang harus dibayar dengan uang, yang dikenakan atas tanah maupun hal-hal lain dan dipungut pemerintah dari rakyatnya.” — Leo Tolstoy, Apa yang Harus Kita Lakukan?, Bab XX
“Melalui proses inflasi yang terus berlangsung, pemerintah dapat menyita bagian penting dari kekayaan warganya secara diam-diam dan tanpa terlihat. Dengan cara ini mereka bukan hanya menyita, melainkan menyita secara sewenang-wenang; dan sementara proses itu memiskinkan banyak orang, sebagian justru diperkaya.” — John Maynard Keynes, The Economic Consequences of the Peace
“Kapitalisme sama di mana-mana. Untuk bertahan dan tumbuh subur, ia memerlukan kondisi kelangkaan sebagian yang berlangsung terus-menerus: ia memerlukannya untuk menjaga harga dan menciptakan massa yang lapar agar mau bekerja dalam kondisi apa pun.” — Errico Malatesta
“Entah mengapa, saya kurang tertarik pada berat dan lekuk otak Einstein dibanding pada kenyataan yang hampir pasti bahwa orang dengan bakat setara pernah hidup dan mati di ladang kapas dan pabrik yang memeras buruh.” — Stephen Jay Gould
“Karena orang yang sekarang disebut penjahat sama sekali bukan penjahat. Kelaparan, bukan dosa, adalah induk kejahatan modern.” — Oscar Wilde, The Soul of Man under Socialism
“Perbudakan, proteksi, dan monopoli mendapat pembela bukan hanya dari mereka yang diuntungkan, tetapi juga dari mereka yang menderita karenanya.” — Frédéric Bastiat
“Kelas yang memiliki kekuasaan untuk merampok dalam skala besar juga punya kuasa mengendalikan pemerintah dan melegalkan perampokannya.” — Eugene Debs
“Ketika perampasan menjadi cara hidup sekelompok orang dalam masyarakat, lama-kelamaan mereka menciptakan sistem hukum yang mengizinkannya dan aturan moral yang memuliakannya.” — Frédéric Bastiat
“Perampasan yang legal dapat dilakukan melalui cara yang tak terhitung banyaknya. Maka kita memiliki rencana yang tak terhitung banyaknya untuk mengaturnya: tarif, proteksi, tunjangan, subsidi, dorongan, pajak progresif, sekolah negeri, pekerjaan terjamin, laba terjamin, upah minimum, hak mendapat bantuan, hak memperoleh alat kerja, kredit gratis, dan seterusnya, dan seterusnya.” — Frédéric Bastiat, The Law
Hierarki
“Sebagian besar otoritas bermula dari kekuatan mentah seorang gangster dan berkembang menjadi otoritas yang ‘sah’ melalui penerimaan diam-diam. Itulah sejarah negara-bangsa. Fried mencatat bahwa keabsahan adalah sarana yang menggabungkan ideologi dengan kekuasaan. Fungsi keabsahan adalah ‘menjelaskan dan membenarkan keberadaan kekuasaan sosial terkonsentrasi yang dipegang sebagian komunitas serta memberi dukungan serupa bagi tatanan sosial tertentu, yakni cara tertentu membagi dan mengarahkan aliran kekuasaan sosial’.” — Harold Barclay, People without Government ๖
“Menghapus otoritas atau pemerintah tidak berarti menghancurkan kekuatan individu atau bersama yang bekerja di masyarakat, ataupun pengaruh yang dijalankan orang atas sesamanya. Itu berarti mereduksi umat manusia menjadi kumpulan atom yang diam dan terpisah; sesuatu yang mustahil dan, jika dapat dilakukan, akan menghancurkan setiap masyarakat, pukulan maut bagi manusia. Menghapus otoritas berarti menghapus monopoli atas penggunaan daya paksa dan pengaruh. Itu berarti menghapus keadaan ketika kekuatan sosial, yaitu kekuatan bersama semua orang dalam masyarakat, dijadikan alat pikiran, kehendak, dan kepentingan segelintir individu. Dengan kekuatan bersama itu mereka menekan kebebasan semua yang lain untuk menguntungkan gagasan mereka sendiri. Dengan kata lain, itu berarti menghancurkan cara berorganisasi yang mengeksploitasi masa depan, dari satu revolusi ke revolusi berikutnya, demi keuntungan para pemenang sesaat.” — Errico Malatesta
“Di mana ada otoritas, tidak ada kebebasan.” — Pyotr Kropotkin
“Ketika Warren dan Proudhon mencari keadilan bagi kerja lalu berhadapan dengan penghalang monopoli kelas, mereka melihat monopoli itu bertumpu pada Otoritas. Mereka menyimpulkan bahwa yang harus dilakukan bukan memperkuat Otoritas itu hingga monopoli berlaku untuk semua, melainkan mencabut Otoritas sampai ke akarnya dan memberi tempat sepenuhnya kepada prinsip sebaliknya, Kebebasan.” — Benjamin R. Tucker
“Organisasi hierarkis dirancang untuk memaksakan korelasi dalam perilaku manusia terutama melalui pengaruh struktur kendali hierarkis. Dalam hierarki yang ideal, semua pengaruh atau komunikasi antara dua ‘pekerja’ harus melewati satu atasan bersama. Ketika perilaku kolektif makin rumit, jumlah pengaruh mandiri meningkat dan seorang atasan tak lagi mampu mengolah atau menyampaikan semuanya. Menambah jumlah atasan dan mengurangi rasio percabangan, yakni jumlah orang yang diawasi satu atasan, membantu. Namun cara ini gagal ketika kerumitan perilaku kolektif melampaui tingkat kerumitan seorang individu. Jaringan yang memungkinkan interaksi mendatar yang lebih langsung tidak mengalami batasan ini. Ketika kerumitan perilaku kolektif melampaui kerumitan seorang manusia, kendali hierarkis menjadi tidak efektif. Sistem yang dikendalikan secara hierarkis harus mengalah kepada sistem berjaringan. Pada saat kerumitan kolektif menyamai kerumitan seorang individu, peningkatan kerumitan berbenturan dengan batas struktur hierarkis. Struktur itu tidak mampu menghasilkan kerumitan lebih tinggi dan harus mengalah kepada struktur yang didominasi interaksi mendatar. Interaksi mendatar yang menggantikan fungsi kendali sebenarnya sudah ada dalam struktur hierarkis, tetapi menjadi perlu ketika kendali hierarkis gagal karena tingginya kerumitan perilaku kolektif.” — Complexity Rising: From Human Beings to Human Civilization, a Complexity Profile
“Peradaban yang berdasar pada otoritas dan ketundukan adalah peradaban tanpa sarana untuk memperbaiki dirinya. Komunikasi yang efektif hanya mengalir satu arah: dari kelompok penguasa kepada kelompok yang tunduk. Setiap ahli sibernetika tahu saluran komunikasi satu arah semacam itu tidak memiliki umpan balik dan tidak mampu bertindak secara cerdas.” — Robert Anton Wilson, “Thirteen Choruses for the Divine Marquis,” dikutip Kevin Carson dalam The Desktop Regulatory State
“Tindakan taat oleh individu adalah dasar bagi kekuatan masyarakat otoriter sekaligus kelemahannya.” — Robert Shea dan Robert Anton Wilson, The Illuminatus! Trilogy
“Penindas tidak akan sekuat itu jika tidak memiliki kaki tangan di antara orang yang ditindas.” — Simone de Beauvoir
“[…] musuh utama, lawan strategis kita, adalah fasisme […] Bukan hanya fasisme dalam sejarah, fasisme Hitler dan Mussolini—yang begitu berhasil mengerahkan dan memanfaatkan hasrat massa—melainkan juga fasisme dalam diri kita semua, dalam pikiran dan perilaku kita sehari-hari, fasisme yang membuat kita mencintai kekuasaan, menginginkan justru hal yang menguasai dan mengeksploitasi kita.” — Michel Foucault, kata pengantar untuk Anti-Oedipus
“Jika orang memakai kebebasannya untuk menyerahkan kebebasannya, apakah setelah itu mereka lebih sedikit diperbudak? Jika melalui plebisit orang memilih seorang penguasa lalim atas diri mereka, apakah mereka tetap bebas karena kelaliman itu buatan mereka sendiri? Apakah perintah paksa yang dikeluarkannya harus dianggap sah karena akhirnya berasal dari suara mereka sendiri? Itu sama saja dengan mengatakan orang Afrika Timur yang mematahkan tombak di hadapan seseorang agar menjadi hamba orang itu masih mempertahankan kebebasannya karena bebas memilih tuannya.” — Herbert Spencer, The Man Versus the State
“Seseorang tetap menjadi budak meskipun diizinkan memilih tuan baru setiap beberapa tahun.” — Lysander Spooner, No Treason No. VI: The Constitution of No Authority
“Pemilihan tuan secara bebas tidak menghapus para tuan atau budak. Bebas memilih di antara banyak barang dan jasa tidak berarti kebebasan jika barang dan jasa itu mempertahankan kendali sosial atas hidup yang penuh kerja berat dan ketakutan, yakni jika semuanya mempertahankan keterasingan. Ketika individu secara spontan mereproduksi kebutuhan yang dipaksakan dari atas, itu juga tidak membentuk otonomi; hal itu hanya membuktikan keberhasilan kendali.” — Herbert Marcuse, One-Dimensional Man
“Orang yang berusaha mengendalikan orang lain adalah penguasa, penyerang, penyerbu. Sifat penyerbuan itu tidak berubah, entah dilakukan satu orang terhadap orang lain seperti penjahat biasa, satu orang terhadap semua orang seperti raja mutlak, atau semua orang terhadap satu orang seperti demokrasi modern.” — Benjamin R. Tucker, 1890
“Tak seorang pun merebut kekuasaan dengan niat melepaskannya. Kekuasaan bukan alat, melainkan tujuan. Orang tidak mendirikan kediktatoran untuk melindungi revolusi; orang melakukan revolusi untuk mendirikan kediktatoran.” — O’Brien dalam Nineteen Eighty-Four karya George Orwell
Pemerintah
“Sayangnya orang kurang memahami bahwa sebagaimana Negara tidak punya uang sendiri, ia juga tidak punya kekuatan sendiri. Seluruh kekuatan yang dimilikinya berasal dari masyarakat, ditambah yang dari waktu ke waktu dirampasnya dengan satu atau lain dalih; tak ada sumber lain bagi kekuasaan Negara. Karena itu setiap pengambilalihan kekuasaan oleh Negara, baik pemberian maupun perebutan, mengurangi kekuatan masyarakat sebesar itu pula. Tidak pernah ada, dan tidak mungkin ada, penguatan kekuasaan Negara tanpa pengurangan kekuatan sosial yang sepadan dan kurang lebih setara.” — Albert J. Nock ๖
“Tanda yang menentukan dari negara adalah otoritas, hak untuk memerintah. Kewajiban utama manusia adalah otonomi, penolakan untuk diperintah.” — Robert Paul Wolff
“Jika ditelaah, pemerintah ternyata tak lebih dan tak kurang daripada sekelompok manusia yang bisa salah tetapi memiliki kekuatan politik untuk bertindak seakan-akan mereka tak mungkin salah.” — Robert LeFevre
“Di situlah letak perbedaannya, dan ini sangat penting. Kami mengakui ketidaksempurnaan sifat manusia, tetapi tidak membuat pengecualian bagi para penguasa. Mereka membuat pengecualian itu, kadang tanpa sadar, dan karena kami tidak melakukannya, mereka menyebut kami pemimpi, ‘orang yang tidak praktis’.” — Pyotr Kropotkin
“Jika kecenderungan alami manusia begitu buruk sehingga membiarkan orang bebas tidak aman, mengapa kecenderungan para pengatur ini selalu baik? Bukankah pembuat undang-undang dan pejabat yang mereka tunjuk juga anggota umat manusia? Atau apakah mereka percaya diri mereka dibuat dari tanah liat yang lebih baik daripada manusia lain?” — Frédéric Bastiat, The Law
“Bahayanya bukan karena kelas tertentu tidak layak memerintah. Setiap kelas tidak layak memerintah.” — Lord Acton, surat kepada Mary Gladstone (1881)
“Namun apa alasan pemerintah ada? Mengapa menyerahkan kebebasan dan prakarsa sendiri kepada individu lain? Mengapa memberi mereka kekuasaan menjadi tuan, dengan atau melawan kehendak setiap orang, untuk mengatur kekuatan semua orang menurut cara mereka? Apakah para penguasa manusia yang begitu berbakat sehingga mereka punya dasar yang masuk akal untuk mewakili massa dan bertindak demi kepentingan semua orang lebih baik daripada semua orang bertindak untuk diri sendiri? Apakah mereka sedemikian tidak mungkin keliru dan tidak mungkin menjadi korup sehingga nasib setiap orang dan semua orang dapat dipercayakan kepada mereka dengan sedikit pun kebijaksanaan, mengandalkan pengetahuan dan kebaikan mereka? Dan bahkan jika ada orang yang kebaikan serta pengetahuannya tak terbatas, bahkan jika kita menganggap hal yang belum pernah terjadi dalam sejarah dan menurut kita tak mungkin terjadi, yaitu pemerintah diberikan kepada orang yang paling mampu dan paling baik, apakah memiliki kekuasaan pemerintah akan menambah pengaruh baik mereka? Bukankah justru akan melumpuhkan atau menghancurkannya? Sebab orang yang memerintah merasa harus mengurusi hal-hal yang tidak mereka pahami, dan terutama menghabiskan sebagian besar tenaga untuk mempertahankan kekuasaan, memuaskan kawan-kawan mereka, menahan orang yang tak puas, dan menguasai yang memberontak.” — Errico Malatesta
“Apa peran otoritas atau pemerintah dalam usaha manusia memperbaiki hidup, dalam penemuan dan penciptaan? Sama sekali tidak ada, atau setidaknya tidak ada yang membantu. Yang menghasilkan setiap keajaiban di bidang itu selalu individu, biasanya meski otoritas manusia maupun ilahi melarang, menganiaya, dan mengganggunya.” — Emma Goldman, The Individual, Society and the State
“Pemerintah adalah fiksi besar yang melaluinya semua orang berusaha hidup dengan membebani semua orang lain.” — Frédéric Bastiat, “Government”
“Orang yang percaya pada perbedaan sangat tegas antara demokrasi dan monarki hampir tak dapat memahami bagaimana lembaga politik dapat berubah berkali-kali tetapi tetap sama. Padahal pandangan sekilas akan menunjukkan bahwa dalam seluruh perkembangan monarki Inggris, melalui perluasan dan revolusinya, bahkan ketika ia menyeberang lautan ke sebuah koloni yang kemudian menjadi bangsa merdeka dan akhirnya Negara yang kuat, fungsi dan sikap Negara yang sama tetap terpelihara tanpa perubahan pokok.” — Randolph Bourne, The State
“Negara tidak lebih daripada jumlah seluruh kebebasan yang ditolak masyarakat kepada individu.” — Mikhail Bakunin
“Individu tidak dapat tawar-menawar dengan Negara. Negara hanya mengakui satu mata uang, kekuasaan, dan ia sendiri yang mencetaknya.” — Ursula K. Le Guin, The Dispossessed (1974)
“Dari segala tirani, tirani yang dijalankan demi kebaikan para korbannya boleh jadi paling menindas. Mungkin lebih baik hidup di bawah bangsawan perampok daripada di bawah orang yang merasa paling bermoral dan serba kuasa lalu sibuk mencampuri hidup orang. Kekejaman bangsawan perampok kadang tertidur dan keserakahannya suatu saat terpuaskan; tetapi mereka yang menyiksa kita demi kebaikan kita akan melakukannya tanpa akhir karena mereka mendapat persetujuan hati nurani sendiri.” — C. S. Lewis, The Humanitarian Theory of Punishment (1949)
“Hukum, dalam kesetaraannya yang agung, melarang orang kaya dan miskin sama-sama tidur di bawah jembatan, mengemis di jalan, dan mencuri roti.” — Anatole France
“Prinsip bahwa mayoritas berhak memerintah minoritas pada praktiknya mereduksi semua pemerintah menjadi persaingan antara dua kelompok manusia: siapa yang menjadi tuan dan siapa yang menjadi budak. Betapa pun berdarahnya, persaingan itu menurut sifatnya tak akan pernah berakhir selama manusia menolak menjadi budak.” — Lysander Spooner, No Treason
“Semua bentuk pemerintahan gagal. Despotisme tidak adil bagi semua orang, termasuk sang despot, yang mungkin diciptakan untuk hal yang lebih baik. Oligarki tidak adil bagi banyak orang dan pemerintahan gerombolan tidak adil bagi sedikit orang. Dulu ada harapan besar pada demokrasi; tetapi demokrasi hanya berarti rakyat memukuli rakyat demi rakyat. Hal itu sudah terungkap. Saya harus katakan sudah saatnya, karena semua otoritas sungguh merendahkan martabat. Ia merendahkan orang yang menjalankannya dan orang yang ditundukkan kepadanya.” — Oscar Wilde, The Soul of Man under Socialism
“…pertimbangkan puluhan ribu orang yang dibakar, digantung, direbus, dan dibunuh dengan cara lain karena dituduh sihir; jutaan karena dianggap sesat; ribuan korban mulia yang menderita karena dianggap berkhianat; korban api, siksaan, tiang hukuman, alat penyiksa, dan penjara bawah tanah atas segala kejahatan yang dapat dibayangkan sejak awal waktu…
Biarkan ia mempertimbangkan lautan darah dan sungai air mata yang mengalir karena kekuatan dan kebrutalan para penguasa dunia; kekejaman, siksaan, dan penderitaan yang ditimpakan kepada orang tak berdaya, lemah, dan malang; lalu tanyakan pada dirinya apakah ia percaya hukuman itu baik. Sekalipun kekerasan dapat mencegah kejahatan, kebrutalan, penderitaan, darah, dan kejahatan para penguasa menjulang setinggi gunung melampaui apa yang menimpa para korban lemah dan tak dikenal, yang ketidakadilan terhadap mereka pura-pura hendak dibalas oleh para penguasa. Dan kekejaman itu tidak mereda.
Sungguh gila jika orang meragukan keadilan putusan bersalah masa lalu tetapi percaya pada keadilan putusan hari ini. Tak ada putusan bersalah yang adil dan tak ada penghakiman yang benar. Segala kekerasan dan penggunaan kekuatan itu kejam, tidak adil, dan biadab, serta tak dapat dipertahankan dengan penilaian manusia.” — Clarence Darrow, Resist Not Evil
“Pemerintah tidak bisa menginginkan masyarakat hancur, sebab itu berarti ia dan kelas berkuasa kehilangan sumber eksploitasi; pemerintah juga tidak bisa membiarkan masyarakat mempertahankan dirinya tanpa campur tangan resmi, sebab orang akan segera sadar bahwa pemerintah hanya menjaga para pemilik harta yang membuat mereka terus hidup dalam kelaparan, lalu cepat-cepat menyingkirkan pemerintah dan para pemilik itu sekaligus.” — Errico Malatesta
“Mengapa rakyat kelaparan? Karena penguasa menghabiskan uang lewat pajak. Karena itu rakyat kelaparan. Mengapa rakyat memberontak? Karena penguasa terlalu banyak ikut campur. Karena itu mereka memberontak. Mengapa rakyat menganggap ringan kematian? Karena penguasa terlalu banyak menuntut dari hidup. Karena itu rakyat menganggap ringan kematian. Ketika bekal hidup sedikit, orang tahu untuk tidak terlalu menghargai hidup.” — Lao Tzu, Tao Te Ching, bab 75, terj. Gia-Fu Feng dan Jane English
“Karena itu siapa pun yang menginginkan kebebasan hendaknya memahami fakta pokok berikut: 1. Setiap orang yang menyerahkan uang ke tangan yang disebut ‘pemerintah’ menyerahkan pedang yang akan dipakai melawan dirinya, untuk memeras lebih banyak uang darinya dan menundukkannya pada kehendak sewenang-wenang pemerintah. 2. Mereka yang mula-mula mengambil uang tanpa persetujuannya akan menggunakan uang itu untuk terus merampok dan memperbudaknya jika kelak ia berani menolak tuntutan mereka.” — Lysander Spooner, No Treason
“Kita dapat menyimpulkan tanpa takut bahwa rumus revolusi bukan Legislasi Langsung, bukan Pemerintah Langsung, bukan Pemerintah yang Disederhanakan, melainkan Tanpa Pemerintah. Bukan monarki, bukan aristokrasi, bahkan bukan demokrasi sendiri jika itu masih berarti pemerintah apa pun, meskipun bertindak atas nama rakyat dan menyebut dirinya rakyat. Tanpa otoritas, tanpa pemerintah, bahkan pemerintahan rakyat, itulah Revolusi. Legislasi langsung, pemerintah langsung, pemerintah yang disederhanakan adalah dusta lama yang sia-sia mereka segarkan lagi. Langsung atau tidak langsung, sederhana atau rumit, memerintah rakyat akan selalu berarti menipu rakyat. Selalu manusia yang memerintah manusia, fiksi yang mengakhiri kebebasan; kekuatan kasar yang memotong persoalan alih-alih keadilan, satu-satunya yang dapat menjawabnya; ambisi keras kepala yang menjadikan pengabdian dan kepercayaan lugu sebagai batu pijakan…” — Pierre-Joseph Proudhon, The General Idea of the Revolution in the Nineteenth Century (1851)
“Sekalipun tiadanya pemerintah sungguh berarti anarki dalam arti negatif dan kacau—dan itu jauh dari kenyataan—bahkan kekacauan anarkis apa pun tak akan lebih buruk daripada keadaan tempat pemerintah membawa umat manusia.” — Leo Tolstoy, Patriotism and Government
“Apa yang kita sebut pemerintah? Apakah ia selain kekerasan yang terorganisasi? Hukum memerintahkanmu taat; jika tidak, hukum akan memaksamu dengan kekuatan—semua pemerintah, semua hukum dan otoritas pada akhirnya berdiri di atas kekuatan dan kekerasan, hukuman atau ketakutan akan hukuman.” — Alexander Berkman
“Negara menyebut kekerasannya sendiri hukum, tetapi kekerasan individu kejahatan.” — Max Stirner, The Unique and Its Own
“Dulu kejahatan menyendiri seperti seruan protes; sekarang ia seluas ilmu pengetahuan. Kemarin ia diadili; hari ini ia menentukan hukum.” — Albert Camus, The Rebel
“Kau tidak mempertanyakan hak pemerintah untuk membunuh, menyita, dan memenjarakan. Jika seseorang melakukan apa yang terus-menerus dilakukan pemerintah, kau akan menyebutnya pembunuh, pencuri, dan bajingan. Namun selama kekerasan yang dilakukan ‘sah menurut hukum’, kau menyetujui dan menaatinya. Jadi yang sebenarnya kau tentang bukan kekerasan, melainkan orang yang memakai kekerasan secara ‘melanggar hukum’.” — Alexander Berkman
“Membunuh dilarang; karena itu semua pembunuh dihukum, kecuali mereka membunuh banyak orang diiringi bunyi terompet.” — Voltaire
“DIPERINTAH berarti diawasi, diperiksa, dimata-matai, diarahkan, dipaksa oleh hukum, diberi nomor, diatur, didaftar, diindoktrinasi, diceramahi, dikendalikan, dicek, ditaksir, dinilai, dikecam, diperintah, oleh makhluk yang tidak punya hak, kebijaksanaan, ataupun kebajikan untuk melakukannya. DIPERINTAH berarti dalam setiap kegiatan dan transaksi dicatat, didaftarkan, dihitung, dipajaki, dicap, diukur, diberi nomor, ditaksir, diberi izin, disahkan, ditegur, dicegah, dilarang, diperbaiki, dikoreksi, dihukum. Artinya, atas nama manfaat umum dan kepentingan bersama, dibebani pungutan, dilatih, diperas, dieksploitasi, dimonopoli, dipaksa menyerahkan harta, dijepit, ditipu, dirampok; lalu begitu sedikit saja melawan, pada keluhan pertama, ditindas, didenda, difitnah, diganggu, diburu, diperlakukan kasar, dipukuli dengan pentungan, dilucuti, diikat, dicekik, dipenjara, diadili, dinyatakan bersalah, ditembak, dideportasi, dikorbankan, dijual, dikhianati; dan sebagai puncaknya, diejek, ditertawakan, dicemooh, dihina, dipermalukan. Itulah pemerintah; itulah keadilannya; itulah moralnya.” — Pierre-Joseph Proudhon
“Pemerintah adalah lembaga paling berbahaya yang dikenal manusia. Sepanjang sejarah ia melanggar hak manusia lebih daripada yang mampu dilakukan individu atau kelompok individu mana pun: ia membunuh orang, memperbudak mereka, mengirim mereka ke kerja paksa dan kamp konsentrasi, dan secara teratur merampok serta menjarah hasil kerja mereka. Tidak seperti penjahat biasa, pemerintah punya kekuasaan menangkap dan mengadili; tidak seperti penjahat biasa, ia dapat mengepung dan melingkupi seseorang sepenuhnya, mendominasi setiap sisi hidupnya, sehingga satu-satunya jalan keluar adalah meninggalkan negeri itu (dan dalam negeri totaliter bahkan itu dilarang).” — John Hospers
Keseimbangan Kekuatan
“Aku sungguh bebas hanya ketika semua manusia, laki-laki dan perempuan, sama-sama bebas. Kebebasan orang lain sama sekali tidak meniadakan atau membatasi kebebasanku; sebaliknya, kebebasan mereka justru menjadi prasyarat sekaligus penegasan bagi kebebasanku.” — Mikhail Bakunin ๖
“Argumen bagi kebebasan bukan argumen melawan organisasi, salah satu alat terkuat yang dapat dipakai akal manusia, melainkan melawan segala organisasi yang eksklusif, berhak istimewa, dan monopolistis, melawan penggunaan pemaksaan untuk mencegah orang lain melakukan sesuatu dengan lebih baik.” — Friedrich August von Hayek
“Desentralisasi berarti otonomi—kemampuan bertindak bebas atas prakarsa sendiri. Otonomi berlaku pada skala apa pun—satu orang, satu lingkungan, suatu gerakan, seluruh wilayah. Untuk bebas, kau memerlukan kendali atas lingkungan terdekat dan rincian hidup sehari-hari; semakin mampu kau memenuhi kebutuhan sendiri, semakin aman otonomimu. Ini tidak berarti harus memenuhi semua kebutuhan sendirian; bisa juga berarti bentuk saling ketergantungan yang memberimu daya tawar terhadap orang yang kau andalkan. Tak satu lembaga pun seharusnya mampu memonopoli akses pada sumber daya atau hubungan sosial. Masyarakat yang mendorong otonomi membutuhkan apa yang disebut insinyur sebagai redundansi: beragam pilihan dan kemungkinan dalam setiap sisi hidup.” — CrimethInc., From Democracy to Freedom
“Meningkatnya kekuasaan organisasi administratif yang terus membesar diikuti berkurangnya kekuatan bagian masyarakat lain untuk melawan perluasan organisasi tersebut dan kendalinya yang semakin besar.” — Herbert Spencer, The Man Versus the State
“Sinergi yang dihasilkan dari berbagi pengetahuan dalam jaringan adalah—dalam dua arti kata itu sekaligus—milik dan sifat jaringan. Ini membawa dampak revolusioner pada keseimbangan kekuatan antara jaringan dan hierarki, serta memberdayakan individu dan kelompok kecil melawan organisasi besar sampai tingkat yang hampir tak terbayangkan. Dalam hierarki, seluruh komunikasi antaranggotanya atau antarsimpul setempat harus melalui sejumlah kecil simpul pusat. Yang diizinkan lewat dari satu anggota atau simpul setempat ke anggota atau simpul lain hanyalah komunikasi yang memenuhi standar penyebaran yang ditentukan pengendali simpul pusat. Hanya sedikit simpul dalam hierarki yang dapat mengirim, sebab itu susunannya disebut ‘satu-ke-banyak’. Tetapi dalam jaringan tersebar, setiap simpul dapat mengirim, dan dua simpul mana pun dapat berkomunikasi langsung tanpa melalui simpul pusat atau mendapat persetujuan pengendalinya. Alih-alih anggota perorangan sekadar memilih siapa yang mengendalikan simpul pusat, ‘[s]eseorang mengajukan usulan dan setiap orang yang ingin ikut dapat melakukannya. Jangkauan tindakan itu bergantung pada seberapa jauh usulan diterima.’ Demokrasi mayoritarian adalah ‘sistem kelangkaan’ tempat kekuasaan mengambil keputusan harus diperebutkan: ‘kelompok harus menghadapi pilihan salah satu, antara satu penyaring dan yang lain, antara satu wakil dan yang lain.’ Sebaliknya, kekuasaan mengambil keputusan dalam jaringan tersebar tidak harus diperebutkan. Keputusan tiap individu hanya memengaruhi dirinya dan tidak menghalangi orang lain melakukan hal serupa. ‘Bahkan jika mayoritas bukan hanya tak setuju dengan usulan tetapi juga bertindak menentangnya, mereka tidak akan mampu mencegah usulan itu dilaksanakan.’” — Kevin Carson, The Desktop Regulatory State
“Ada hubungan terbalik antara keduanya: kekuatan salah satunya adalah kelemahan yang lain. Jika ingin memperkuat masyarakat, kita harus melemahkan negara. Segala macam penganut totalitarianisme memahami ini; karena itulah mereka selalu berusaha menghancurkan lembaga sosial yang tak dapat mereka kuasai.” — Colin Ward, The State and Society
“Ada ketimpangan penting yang memberi keuntungan besar kepada penentang negara. Ya, negara mempunyai kemampuan pengawasan yang kuat, tetapi kemampuan itu diarahkan secara terpusat dan hierarkis, hanya dapat diakses melalui sejumlah kecil operator yang relatif mudah dikenali. Mereka berusaha mencari dan mengawasi jarum berwarna jerami dalam tumpukan jerami berisi tujuh miliar manusia. Gerakan perlawanan berjaringan di dunia adalah jarum itu. Lebih mudah jarum melihat dan mengenali orang yang membawa garpu rumput daripada orang itu melihat dan mengenali jarum. Jumlah jarum jauh lebih banyak daripada pembawa garpu rumput. Dan jarum punya seperangkat alatnya sendiri—murah, mudah dipakai, tersedia bagi hampir siapa saja (termasuk para operator tadi!) yang kapan pun dan karena alasan apa pun memutuskan menjadi jarum.” — Thomas Knapp, dikutip Kevin Carson
“Sebagai langkah pertama untuk mencapai tujuan, para pendukung desentralisasi mendorong penyebaran produksi. Maka mereka mengembangkan rumah tangga produktif tempat keluarga dapat menghasilkan sendiri barang untuk memenuhi semua atau sebagian besar kebutuhan dasarnya dengan alat dan mesin modern berskala kecil.” — Mildred Loomis
“Kenyataannya, Bumi tidak sanggup lagi menahan serangan ini. Kita tidak bisa lagi membiarkan hal ini terus berlangsung ketika itu mencemari udara, mencemari air, mencemari makanan kita. [...] Bumi yang memberi kita kehidupan, bukan pemerintah Amerika. Bumi yang memberi kita kehidupan, bukan pemerintah korporasi multinasional. Bumi yang memberi kita kehidupan; kita membutuhkan Bumi. Kita harus tetap punya Bumi, kalau tidak hidup kita pun akan berakhir. Karena itu kita harus melawan apa yang mereka lakukan.” — John Trudell, “Take Back the Earth”, pidato Hari Thanksgiving (1980)
“Ambillah seorang revolusioner yang paling bersemangat dan berilah ia kekuasaan mutlak: dalam setahun ia akan lebih buruk daripada Tsar sendiri.” — Mikhail Bakunin
“Tentunya begitulah ‘Negara’ bermula di bumi. Saya percaya khayalan bahwa negara bermula dari semacam ‘kontrak’ sudah lenyap. Orang yang bisa memerintah, yang secara alami menjadi ‘tuan’, yang tampil dengan kekerasan dalam tindakan dan gerak-geriknya—apa urusannya orang seperti itu dengan membuat kontrak! Kita tidak dapat berunding dengan makhluk demikian.” — Friedrich Nietzsche, The Genealogy of Morals
“[…] kejahatan negara bukan hal baru dan bukan sesuatu yang mengherankan. Itu bermula ketika kelompok pertama manusia pemangsa berkumpul dan membentuk negara, dan akan terus berlangsung selama negara masih ada di dunia, karena negara pada dasarnya adalah lembaga antisosial, pada dasarnya bersifat kriminal. Gagasan bahwa negara bermula untuk melayani tujuan sosial apa pun sama sekali tidak sesuai dengan sejarah. Negara bermula dari penaklukan dan penyitaan—yakni dari kejahatan. Negara bermula dengan tujuan mempertahankan pembagian masyarakat menjadi kelas pemilik sekaligus pengeksploitasi dan kelas tanpa milik yang hidup dalam ketergantungan—yakni dengan tujuan kriminal.” — Albert Jay Nock, “The Criminality of the State” (1939)
“Sesungguhnya, sebagaimana akan kita lihat, negara pada masa awal sering gagal mempertahankan penduduknya; negara itu luar biasa rapuh secara epidemiologis, ekologis, dan politis, serta rentan runtuh atau terpecah. Namun, bila negara itu sering pecah, penyebabnya bukan karena ia tidak menggunakan kekuatan pemaksa apa pun yang sanggup dikerahkannya. Bukti penggunaan tenaga kerja tidak bebas secara luas—tawanan perang, perhambaan berdasarkan kontrak, perbudakan di kuil, pasar budak, pemindahan paksa ke koloni kerja, kerja narapidana, dan perbudakan komunal (misalnya para helot di Sparta)—sangat banyak dan kuat.” — James C. Scott, Against the Grain: A Deep History of the Earliest States (2017)
“Kekuasaan birokrasi politik tak berjiwa yang terus membesar, yang mengawasi dan melindungi hidup manusia dari buaian sampai kubur, semakin menghambat kerja sama antarmanusia. Sistem yang dalam setiap tindakannya mengorbankan kesejahteraan lapisan-lapisan luas masyarakat dan seluruh bangsa demi nafsu kekuasaan yang egois serta kepentingan ekonomi kelompok kecil pasti mengurai ikatan sosial dan membawa perang terus-menerus antara setiap orang dan semua yang lain. Sistem ini hanya membuka jalan bagi reaksi intelektual dan sosial besar yang sekarang terwujud dalam Fasisme modern dan gagasan negara totaliter. Ia jauh melampaui obsesi kekuasaan monarki mutlak pada abad-abad lalu dan berusaha menaruh setiap bidang kegiatan manusia di bawah kendali negara. ‘Semua untuk negara; semua melalui negara; tiada apa pun tanpa negara!’ menjadi refrain teologi politik baru. Sebagaimana dalam berbagai sistem teologi gereja Tuhan adalah segalanya dan manusia bukan apa-apa, dalam keyakinan politik modern ini negara adalah segalanya dan warga bukan apa-apa. Dan sebagaimana kata ‘kehendak Tuhan’ dipakai membenarkan kehendak kasta berhak istimewa, sekarang di balik kehendak negara hanya tersembunyi kepentingan egois orang yang merasa berhak menafsirkan kehendak itu sesuka mereka dan memaksakannya kepada rakyat.” — Rudolf Rocker
Tatanan Spontan
“Kebebasan bukan Putri dari Tatanan, melainkan Ibunya.” — Pierre-Joseph Proudhon
“Jika ingin menjadi pemimpin besar, kau harus belajar mengikuti Tao. Berhenti berusaha mengendalikan. Lepaskan rencana dan gagasan yang kaku, maka dunia akan mengurus dirinya sendiri. Semakin banyak hukum dan larangan, semakin miskin orang. Semakin banyak senjata, semakin tidak aman orang. Semakin banyak subsidi, semakin berkurang kemampuan orang untuk mandiri. Semakin banyak aturan dan peraturan, semakin banyak pencuri dan perampok. Karena itu Sang Guru berkata: Aku melepaskan hukum, dan orang menjadi jujur. Aku melepaskan ekonomi, dan orang menjadi makmur. Aku melepaskan agama, dan orang menjadi tenang. Aku melepaskan segala hasrat akan kebaikan bersama, dan kebaikan menjadi selazim rumput.” — Lao Tzu, Tao Te Ching, bab 57
“Prinsip dasar bahwa dalam mengatur urusan kita, kita sebaiknya memanfaatkan sebanyak mungkin kekuatan spontan masyarakat dan sesedikit mungkin memakai pemaksaan, dapat diterapkan dalam beragam cara tanpa batas.” — Friedrich Hayek, The Road to Serfdom
“Jika kita sepakat bahwa masalah ekonomi masyarakat terutama adalah menyesuaikan diri dengan cepat pada perubahan keadaan khusus di suatu waktu dan tempat, maka keputusan terakhir agaknya harus diserahkan kepada orang yang mengenal keadaan itu, yang mengetahui langsung perubahan yang relevan dan sumber daya yang segera tersedia untuk menanganinya.” — Friedrich A. Hayek, The Use of Knowledge in Society
“Sebagaimana kita lihat, penyederhanaan yang tak terhindarkan dalam lembaga birokrasi besar tidak pernah dapat menggambarkan secara memadai kerumitan nyata proses alam atau sosial. Kategori yang dipakai terlalu kasar, terlalu statis, dan terlalu disederhanakan menurut pola tertentu untuk menggambarkan dengan tepat dunia yang mereka klaim jelaskan.” — James C. Scott, Seeing Like a State
“Semakin Anda berusaha mengendalikan cara orang berpikir, bertindak, atau berinteraksi, baik secara langsung melalui kekuatan maupun melalui cara yang lebih tidak langsung (ancaman, rasa takut, atau ‘dorongan halus’ lewat bentuk lain manipulasi insentif), semakin sulit sistem itu menyesuaikan diri.” — Andrew Kemle
“Argumen lama bagi tatanan spontan dibanding rancangan terpusat adalah bahwa ketika pengetahuan tersebar, hanya proses yang terdesentralisasi dan berkembang dari waktu ke waktu yang dapat menemukan pengetahuan yang relevan. Dengan kata lain, tatanan spontan mampu ‘[…] memanfaatkan pengetahuan yang tidak dimiliki secara utuh oleh siapa pun’.” — F. A. Hayek, (Law, Legislation and Liberty, Volume 1: Rules and Order)
“Bagi pikiran polos yang hanya dapat membayangkan tatanan sebagai hasil susunan yang disengaja, mungkin terdengar absurd bahwa dalam keadaan rumit tatanan dan penyesuaian terhadap hal yang belum diketahui justru lebih efektif dicapai dengan menyebarkan keputusan, dan bahwa pembagian otoritas akan memperluas kemungkinan tatanan secara keseluruhan. Namun desentralisasi itu memang membuat lebih banyak informasi diperhitungkan.” — Friedrich Hayek
“Penelitian empiris yang luas mencatat keragaman keadaan ketika individu menyelesaikan masalah sumber daya bersama sendiri, kapan penyelesaian itu bertahan lama, dan bagaimana susunan lembaga yang lebih luas menambah atau mengurangi kemampuan individu pada skala lebih kecil untuk menyelesaikan masalah secara efektif dan berkelanjutan.” — Elinor Ostrom, “Beyond Markets and States: Polycentric Governance of Complex Economic Systems”
“Tatanan spontan muncul dari jaringan orang-orang mandiri yang setara. Tindakan mereka menghasilkan umpan balik positif dan negatif yang membantu mengarahkan pelaku berikutnya dalam menjalankan rencana yang mereka pikirkan sendiri, sehingga proses umpan balik berlanjut. Setiap orang adalah simpul dalam jaringan dan terhubung oleh umpan balik; setiap simpul bebas bertindak sendiri. Umpan balik yang mereka hasilkan mengurangi pengetahuan tentang seluruh sistem yang perlu dimiliki siapa pun agar berhasil di dalamnya.” — Gus diZerega, dikutip Kevin Carson dalam The Desktop Regulatory State
“Sebagai istilah sosiologi, stigmergi terutama mengacu pada jenis organisasi berjaringan yang berkaitan dengan wiki, blog kelompok, dan organisasi ‘tanpa pemimpin’ yang disusun seperti sel-sel berjaringan. Ketika kerja sama stigmergis diperluas oleh komputer dan jaringan digital, kemampuan pemrosesan bertambah besar. Stigmergi memungkinkan kerja sama tanpa batas skala oleh individu yang bertindak secara mandiri.
Stigmergi bukan ‘kolektivisme’ dalam arti lama, ketika usaha bersama dalam skala berarti apa pun dianggap memerlukan organisasi besar untuk mewakili kelompok dan koordinasi administratif atas usaha individu lewat hierarki. Namun stigmergi adalah perwujudan paling penuh dari kolektivisme karena ia menghapus biaya transaksi untuk tindakan bersama banyak individu. Ia juga bentuk paling penuh dari individualisme karena semua tindakan adalah tindakan bebas individu dan ‘kelompok’ hanyalah jumlah seluruh tindakan individu. Setiap individu bebas merumuskan inovasi apa pun yang dianggapnya tepat tanpa perlu izin kelompok, dan semua orang bebas mengikutinya atau tidak. Stigmergi menghilangkan keharusan individu terikat pada kehendak kelompok dan memperkecil satuan tata kelola menjadi individu, sehingga mewujudkan cita-cita persetujuan sepenuhnya.
Organisasi stigmergis menghasilkan susunan modular dari bagian-bagian yang dapat dirangkai. Struktur semacam itu ada di mana-mana karena struktur modular mengubah kemampuan sistem untuk belajar, berkembang, dan menyesuaikan diri. Sejumlah kecil bagian dasar dapat ditukar susunan dan digabung ulang menjadi sangat banyak sistem rumit. Jika dimulai dengan banyak individu modular, masing-masing mampu berinteraksi dengan beberapa individu lain dan bertindak terhadap mereka menurut tata bahasa sederhana yang terdiri dari beberapa aturan, dalam keadaan yang tepat mereka dapat mengalami transisi fase yang cepat.” — Kevin Carson, The Desktop Regulatory State ๖
“Untuk memahami bagaimana masyarakat dapat hidup tanpa pemerintah, cukup lihat sebentar apa yang benar-benar berlangsung dalam masyarakat kita sekarang. Kita akan melihat bahwa fungsi yang paling penting bahkan sekarang dijalankan tanpa campur tangan pemerintah. Juga bahwa pemerintah hanya ikut campur untuk mengeksploitasi massa, membela orang berhak istimewa, atau akhirnya mengesahkan secara sangat tidak perlu segala sesuatu yang sudah dilakukan tanpa bantuannya, kerap justru sekalipun pemerintah menghalangi dan menentangnya. Orang bekerja, bertukar, belajar, bepergian, mengikuti aturan moral atau kebersihan yang berlaku sesuai pilihan mereka; mereka menikmati kemajuan ilmu dan seni, memiliki kepentingan bersama yang tak terhitung, tanpa pernah merasa perlu ada orang yang memberi tahu bagaimana mereka harus bertindak dalam semua urusan itu. Sebaliknya, justru hal-hal yang tak dicampuri pemerintah berkembang paling baik dan menimbulkan paling sedikit perselisihan karena tanpa disadari menyesuaikan diri dengan keinginan semua orang menurut cara yang paling berguna dan menyenangkan.” — Errico Malatesta
“Dengan dihapusnya kekuatan negatif bernama pemerintah, masyarakat akan menjadi apa yang mampu dicapainya dengan kekuatan dan kemampuan pada waktu itu. Jika ada orang terpelajar yang ingin menyebarkan pendidikan, mereka akan mengatur sekolah dan harus membuat manfaat serta kegembiraan yang diperoleh dari pendidikan itu terasa. Jika tak ada orang demikian, atau hanya sedikit, pemerintah tak dapat menciptakan mereka. Yang dapat dilakukannya, sebagaimana sekarang, adalah mengambil sedikit orang itu dari kerja praktis yang menghasilkan sesuatu di bidang pendidikan, lalu menempatkan mereka untuk memerintah dari atas apa yang harus dipaksakan dengan bantuan sistem kepolisian. Maka guru yang cerdas dan bersemangat diubah menjadi politisi belaka, parasit yang tak berguna, sibuk sepenuhnya memaksakan kegemaran sendiri dan menjaga kekuasaan.” — Errico Malatesta
“Di bawah mesin pemerintah, di bayangan lembaga politik, di luar pandangan negarawan dan rohaniwan, masyarakat perlahan dan diam-diam menghasilkan organismenya sendiri; serta membangun tatanan baru yang mengungkapkan daya hidup dan otonominya. … Kita dapat menyimpulkan tanpa takut bahwa rumus revolusi bukan Legislasi Langsung, bukan Pemerintah Langsung, bukan Pemerintah yang Disederhanakan, melainkan TANPA PEMERINTAH.” — P.J. Proudhon, 1851
“Ketika kekuasaan negara yang dibenci tidak lagi memaksa individu, asosiasi, komune, kawasan, dan wilayah untuk hidup bersama, mereka akan terhubung jauh lebih erat dan membentuk persatuan yang jauh lebih hidup, lebih nyata, dan lebih kuat daripada persatuan yang kini dipaksakan di bawah kuk negara yang sama menindas dan menguras tenaga.” — Pierre-Joseph Proudhon
“Pengambilan keputusan yang kacau menumbuhkan pengakuan bahwa masyarakat dapat bekerja secara spontan sebagai jaringan terdesentralisasi, mengizinkan konflik sebagai kekuatan sehat dalam hidup, mendorong banyak ruang pengambilan keputusan yang meresapi seluruh momen kehidupan jauh di luar ruang resmi yang maskulin seperti kongres atau titah, serta mengizinkan keputusan yang berbeda, bahkan bertentangan, dibuat di berbagai titik jaringan manusia. Pada saat yang sama, ia mendorong kesadaran bersama agar setiap pengambil keputusan dapat memakai kecerdasannya semaksimal mungkin dan dengan begitu mencapai keselarasan. Manusia punya kemampuan yang telah teruji dalam evolusi untuk memakai pengambilan keputusan yang kacau pada skala luas; hanya orang yang ingin selamanya memperlakukan sesamanya seperti anak kecil agar dapat mengendalikan mereka dengan memonopoli keputusan dalam struktur tunggal yang membantahnya.” — Peter Gelderloos, Worshiping Power
“Atau Negara bertahan selamanya, menghancurkan hidup individu dan setempat, mengambil alih setiap bidang kegiatan manusia, membawa perang dan perebutan kekuasaan di dalam negeri, revolusi istana yang hanya mengganti satu tiran dengan yang lain, dan di ujung perkembangan ini pasti ada … kematian! Atau Negara dihancurkan dan hidup baru dimulai lagi di ribuan pusat, berlandaskan prakarsa yang hidup dari individu dan kelompok serta kesepakatan bebas.” — Pyotr Kropotkin
Asosiasi Bebas
“Sekarang, kau harus mengakui salah satu: dalam kebebasan, berbagai masyarakat akan memiliki susunan sosial yang berbeda, sebagian Komunis, sebagian justru kebalikannya, dan persaingan pasti timbul di antara mereka sehingga hasilnya menentukan mana yang terbaik; atau kau harus menindas persaingan, mendirikan Komunisme, menolak kebebasan, dan melawan kemajuan. Yang dibutuhkan dunia, kawanku, bukan cara baru untuk mendirikan sesuatu, melainkan menghapus batasan atas kesempatan.” — Voltairine de Cleyre, The Individualist and the Communist ๖
“Setelah mengakui sebagai fakta bahwa semua anggotanya punya hak setara atas kekayaan yang terkumpul di masa lalu, ia tidak lagi mengenal pembagian antara yang dieksploitasi dan yang mengeksploitasi, yang diperintah dan yang memerintah, yang didominasi dan yang mendominasi. Ia berusaha membangun keselarasan tertentu di dalamnya—bukan dengan menundukkan semua anggotanya kepada otoritas yang secara fiktif dianggap mewakili masyarakat, bukan dengan memaksakan keseragaman, melainkan dengan mendorong setiap orang mengembangkan prakarsa bebas, tindakan bebas, dan asosiasi bebas. Ia mencari perkembangan individualitas selengkap mungkin bersama perkembangan tertinggi asosiasi sukarela dalam segala sisi, pada semua tingkat yang mungkin, untuk segala tujuan yang dapat dibayangkan; asosiasi yang terus berubah dan diperbarui, yang membawa unsur ketahanannya sendiri dan terus mengambil bentuk baru yang paling sesuai dengan beragam keinginan semua orang.” — Peter Kropotkin
“Jadi, kata Negara sering dipakai untuk menggambarkan jenis masyarakat tertentu, kelompok manusia tertentu yang berkumpul di wilayah tertentu […] Kata itu juga dipakai semata-mata sebagai sinonim bagi masyarakat. Karena berbagai arti yang diberikan kepada kata Negara, para penentang percaya, atau lebih tepatnya berpura-pura percaya, bahwa kaum anarkis bermaksud menghapus semua ikatan sosial dan semua kerja bersama, serta mengutuk semua orang untuk hidup terasing […] Karena alasan-alasan ini, menurut kami lebih baik memakai ungkapan seperti penghapusan Negara sesedikit mungkin dan menggantinya dengan istilah yang lebih jelas dan konkret: penghapusan pemerintah.” — Errico Malatesta
“Kebebasan bukan kotak tempat orang dipaksa masuk. Kebebasan adalah ruang tempat orang dapat hidup. Ia tidak mengatakan bagaimana mereka akan hidup. Ia hanya mengatakan, selamanya, bahwa kita bisa.” — Karl Hess
“Individu adalah kenyataan sejati dalam kehidupan. Sebuah semesta dalam dirinya sendiri, ia tidak hidup demi Negara, juga tidak demi abstraksi bernama ‘masyarakat’ atau ‘bangsa’, yang tak lebih dari kumpulan individu.” — Emma Goldman, “The Place of the Individual in Society” (1940)
“Apakah aku milik diriku sendiri atau milik orang lain, atau sesuatu yang lain? Apakah kewajiban sosialku kepada banyak kelompok sosial yang tidak resmi dan bertumpang tindih, yang kuikuti atas kehendakku dan dapat kutinggalkan jika kuinginkan, atau kepada suatu entitas yang tidak pernah kuikuti…” — Colin Ward, The State and Society
“Kebebasan yang kita inginkan, untuk diri kita dan orang lain, bukan kebebasan metafisik yang mutlak dan abstrak yang dalam praktik pasti berubah menjadi penindasan terhadap yang lemah; melainkan kebebasan yang nyata, yang mungkin diwujudkan, berupa persekutuan yang sadar akan kepentingan bersama dan solidaritas sukarela.” — Errico Malatesta
“Dengan begitu, berpindah secara bebas dan mudah dari satu jenis Komunisme ke jenis lain, lalu ke jenis Individualisme apa pun, dan seterusnya, akan menjadi hal paling jelas dan mendasar dalam masyarakat yang benar-benar bebas. Jika ada kelompok yang berusaha menghentikannya dan membuat satu sistem berkuasa, mereka akan dilawan sama sengitnya seperti kaum revolusioner melawan sistem sekarang.” — Max Nettlau
“Teori Mutualisme menyatakan bahwa kepentingan masyarakat luas paling baik dilayani oleh cara yang paling memajukan kepentingan individu: bebas dari pembatasan selama tindakan individu tidak melanggar batas orang lain; menghapus semua faktor yang secara buatan membatasi kesempatan manusia; menyusun masyarakat secara sukarela ke dalam asosiasi ketika dibutuhkan untuk melakukan hal yang melampaui kemampuan satu individu; singkatnya, penciptaan barang secara sukarela dan pertukaran timbal balik dalam kondisi yang menolak hak istimewa serta monopoli yang dilindungi negara.” — Clarence Lee Swartz, What Is Mutualism?
“Libertarianisme tidak dapat dipaksakan dari atas ke bawah. Gagal memaksakan libertarianisme sebenarnya adalah ukuran keberhasilan libertarianisme.” — Samuel E. Konkin III
“Setelah mencoba segala macam pemerintah dan berusaha menyelesaikan persoalan yang tak terpecahkan, yakni memiliki pemerintah ‘yang dapat memaksa individu taat tetapi tidak membebaskan dirinya dari kewajiban taat kepada kelompok’, manusia sekarang mencoba melepaskan diri dari ikatan segala bentuk pemerintah dan memenuhi kebutuhan berorganisasi melalui kesepahaman bebas antara individu yang mengejar tujuan bersama.” — Pyotr Kropotkin
Saling Bantu
“Persahabatan tidak dapat diperbesar sampai menelan seluruh planet. Persahabatan tetap kecil, pribadi, akrab, disengaja, sukarela, dan tersebar. Itu kelebihan, bukan kekurangan. Persahabatan memungkinkanmu berhubungan dengan orang lain dan memutuskannya sesukamu, sambil selalu menjaga kepribadianmu, ruang aman di dalam pikiranmu, dan kejelasan tentang siapa dirimu serta apa yang kau butuhkan. Perintah masyarakat luas yang anonim dan dugaan tentang kebaikan bersama tak perlu mengaburkan pikiranmu jika kau membentuk persahabatan alih-alih membangun komunitas.” — Against Community Building, Towards Friendship ๖
“Jelas akan sangat bertentangan dengan segala yang kita ketahui tentang alam jika manusia menjadi pengecualian dari aturan yang begitu umum: jika makhluk yang pada mulanya begitu tak berdaya seperti manusia menemukan perlindungan dan jalan maju, bukan melalui saling mendukung seperti hewan lain, melainkan melalui persaingan nekat demi keuntungan pribadi tanpa memedulikan kepentingan jenisnya. Bagi pikiran yang terbiasa melihat kesatuan dalam alam, pendapat itu sama sekali tidak dapat dipertahankan. Namun betapa pun tidak masuk akal dan miskin secara filsafat, pendapat itu selalu mendapat pendukung. Selalu ada penulis yang memandang manusia secara pesimistis. Mereka mengenalnya secara agak dangkal melalui pengalaman mereka sendiri yang terbatas; tentang sejarah mereka hanya mengetahui apa yang diceritakan para penulis kronik, yang selalu mengawasi perang, kekejaman, dan penindasan, dan hampir tidak lebih dari itu. Lalu mereka menyimpulkan bahwa manusia hanyalah kumpulan makhluk yang longgar, selalu siap saling bertarung, dan hanya dicegah oleh campur tangan suatu otoritas.” — Pyotr Kropotkin, Mutual Aid: A Factor of Evolution
“Maaf, tetapi saya tidak ingin menjadi kaisar. Itu bukan urusan saya. Saya tidak ingin memerintah atau menaklukkan siapa pun. Saya ingin membantu semua orang—jika mungkin—orang Yahudi, bukan Yahudi, orang kulit hitam, orang kulit putih. Kita semua ingin saling membantu. Begitulah manusia. Kita ingin hidup dengan kebahagiaan satu sama lain, bukan dengan kesengsaraan satu sama lain.” — Charlie Chaplin, pidato penutup dalam The Great Dictator (1940)
“Solidaritas dalam beberapa hal adalah kebalikan amal. Amal adalah cara memberi bantuan yang memperkuat hubungan hierarkis antarkelompok. Ketika orang kaya menyumbangkan uang untuk amal, orang miskin menjadi makin bergantung pada yang kaya. Namun ketika orang miskin mengatur diri untuk berbagi sumber daya sebagai sesama yang setara, mereka bertindak atas dasar solidaritas.” — Life Without Law
“Karena itu solidaritas adalah sarana kita memperoleh dan menjamin kebebasan sendiri. Kita sepakat bekerja bersama agar tak harus bekerja untuk orang lain. Dengan sepakat berbagi, pilihan kita bertambah sehingga kita dapat menikmati lebih banyak, bukan lebih sedikit. Saling bantu sesuai dengan kepentingan diriku—artinya, aku melihat keuntungan dalam mencapai kesepakatan dengan orang lain berdasarkan saling menghormati dan kesetaraan sosial; sebab jika aku mendominasi seseorang, itu berarti ada kondisi yang memungkinkan dominasi, dan besar kemungkinan giliranku pun akan didominasi.” — An Anarchist FAQ
“Sebelum saudara-saudara kulit putih datang untuk membuat kami beradab, kami tidak punya penjara. Karena itu kami tidak punya penjahat. Kami tidak punya gembok atau kunci, jadi tidak punya pencuri. Jika seseorang begitu miskin hingga tidak punya kuda, tipi, atau selimut, seseorang memberinya barang itu. Kami terlalu tidak beradab untuk memberi nilai besar kepada milik pribadi. Kami ingin memiliki sesuatu hanya agar dapat memberikannya kepada orang lain. Kami tidak punya uang sehingga nilai seorang manusia tidak dapat diukur dengannya.” — John Fire Lame Deer, Lame Deer, Seeker of Visions
“Betapa menakjubkan hasil daya khas individualitas manusia ketika diperkuat oleh kerja sama dengan individu lain … kerja sama—bukan pertikaian dan perjuangan antarsesama—telah bekerja bagi kelangsungan dan perkembangan jenis manusia … hanya saling bantu dan kerja sama sukarela … yang dapat menciptakan dasar hidup individu dan asosiasi yang bebas.” — Emma Goldman, Red Emma Speaks, hlm. 118
“Usaha milik pekerja dan koperasi konsumen adalah bagian dari pasar; asosiasi saling bantu dan klinik gratis adalah bagian dari pasar; demikian pula serikat pekerja sukarela, komune berdasarkan persetujuan, dan tak terhitung pilihan lain selain keadaan kapitalisme sekarang.” — Charles Johnson, Markets Not Capitalism
“Terlibat dalam saling bantu dan tindakan langsung menghadirkan solidaritas yang menguatkan kembali masyarakat yang terpecah menjadi individu-individu terpisah oleh struktur negara.” — Joseph Parampathu, Creative Destruction: Rethinking Failure after the State (2021)
“Agorisme vertikal mencakup berpartisipasi dalam dan menciptakan jaringan pertukaran komunitas, pertanian kota, berkebun di halaman belakang, pasar petani, mendukung pilihan selain polisi, dan mendukung teknologi antarsesama yang terdesentralisasi. Langkah vertikal ini mungkin memakai mata uang negara, sehingga tidak sepenuhnya termasuk ekonomi tandingan, tetapi tetap penting untuk menantang ketergantungan pada negara dan kelas perusahaan. Langkah vertikal lain mungkin tidak langsung mencakup pertukaran mata uang tetapi tetap melawan ketergantungan. Ini dapat berupa dukungan moral dan penyebaran teknologi yang mengguncang keadaan sekarang dan memperkuat hubungan antaranggota komunitas.” — Derrick Broze, Vertical and Horizontal Agorism
“Dengan cara itu akan tumbuh ‘Komune mandiri bagi kelompok berdasarkan wilayah, dan federasi luas serikat pekerja bagi kelompok berdasarkan fungsi sosial—keduanya terjalin dan saling mendukung untuk memenuhi kebutuhan masyarakat’. Ditambahkan pula ‘kelompok berdasarkan kecocokan pribadi—kelompok tak terhitung banyaknya, sangat beragam, bertahan lama atau hanya sejenak, muncul menurut kebutuhan saat itu untuk segala tujuan yang mungkin’. ‘Tiga macam kelompok’ ini akan menjamin ‘terpenuhinya semua kebutuhan sosial: konsumsi, produksi dan pertukaran, komunikasi, sanitasi, pendidikan, perlindungan bersama terhadap serangan, saling bantu, pertahanan wilayah; dan akhirnya kebutuhan ilmu pengetahuan, seni, baca tulis, dan hiburan.’” — Pyotr Kropotkin
“Menjadikan kemiskinan sebagai kejahatan melalui gangguan polisi dan peraturan kota justru merugikan upaya membantu orang yang terusir dari tempat tinggal dan orang miskin yang setiap hari berjuang untuk bangkit. Untuk terus mendorong kesetaraan dalam masyarakat, kami akan terus berbagi makanan di komunitas sambil membangun solidaritas dengan orang tanpa tempat tinggal dan organisasi lain yang mencari masa depan lebih baik.” — Food Not Bombs
Nirkekerasan
“Memberi harapan kepada banyak orang yang tertindas dan ketakutan kepada sedikit penindas, itulah tugas kita. Jika kita melakukan yang pertama dan memberi harapan kepada banyak orang, sedikit penindas itu pasti takut kepada harapan mereka. Di luar itu, kami tidak ingin menakut-nakuti mereka; yang kami inginkan bagi orang miskin bukan balas dendam, melainkan kebahagiaan. Lagi pula, balas dendam macam apa yang mungkin membayar ribuan tahun penderitaan orang miskin?” — William Morris ๖
“Aksi nirkekerasan sebagai metode sesuai dengan tujuan masyarakat nirkekerasan. Memakai cara yang mencerminkan tujuan disebut prafigurasi: cara itu memberi gambaran awal—dengan kata lain, mengantisipasi atau mereproduksi lebih dahulu—tujuannya. Prafigurasi memberi latihan dan pengalaman dalam hal yang dicari. Ia membantu menciptakan sebagian tujuan itu, bahkan jika suatu kampanye gagal. Ia juga membantu menjaga usaha tetap pada arahnya. Jika tujuannya masyarakat tanpa kekerasan terorganisasi, aksi nirkekerasan memiliki semua keunggulan prafiguratif itu. Ia memberi pengalaman hidup tanpa menggunakan kekerasan; mengurangi kekerasan langsung di sini dan sekarang, bahkan jika kampanye gagal; serta memastikan usaha bergerak ke arah nirkekerasan.” — How Nonviolence is Misrepresented
“Kekerasan, kekuatan fisik yang digunakan untuk menyakiti orang lain, merupakan bentuk paling brutal dari pertentangan antarmanusia dan sangat merusak. Menurut sifatnya ia cenderung mencekik perasaan terbaik manusia dan mengembangkan semua sifat antisosial: keganasan, kebencian, balas dendam, semangat dominasi dan tirani, penghinaan kepada yang lemah, dan ketundukan kepada yang kuat. Kecenderungan berbahaya ini muncul juga ketika kekerasan dipakai demi tujuan yang baik. […] Kaum anarkis yang memberontak melawan segala bentuk penindasan dan memperjuangkan kebebasan utuh setiap orang, yang karenanya semestinya secara naluriah menjauhi tindakan kekerasan yang bukan lagi sekadar perlawanan terhadap penindasan tetapi berubah menjadi penindasan pula, juga bisa jatuh ke jurang kekuatan brutal. […]” — Errico Malatesta, Violence as a Social Factor (1895)
“Membenarkan perasaan ganas yang melawan kemanusiaan dan mengangkatnya menjadi prinsip sebagai taktik suatu gerakan… adalah kejahatan sekaligus tindakan kontra-revolusioner.” — Errico Malatesta
“Menurut penelitian University of South Carolina, kekerasan di Amerika naik 42 persen selama Perang Vietnam. Ini nyaris tidak mengejutkan. Para pemimpin kita bertindak tanpa memedulikan hukum, jadi mengapa kita tidak? Jika pemerintah mengancam negeri lain dengan bom, mengapa tidak saling mengancam dengan pistol? Jika pemimpin kita memperkosa planet ini, mengapa kita tidak memperkosa tetangga? Para pemimpin menciptakan suasana takut dan kekerasan. Mengapa mereka tampak terkejut ketika orang Amerika saling membunuh, merampok, dan mencacati?” — Philip Berrigan, Fighting the Lamb’s War: Skirmishes with the American Empire (1996)
“Negara bertahan dengan kekuatan polisi yang diarahkan melawan warga. Negara yang lahir dari kekerasan dan ditopang kekerasan tak akan pernah meraih perdamaian sejati.” — Philip Berrigan, Fighting the Lamb’s War: Skirmishes with the American Empire (1996)
“Dalam sejarah, hal paling mengerikan—perang, genosida, dan perbudakan—lahir bukan dari pembangkangan, melainkan dari ketaatan.” — Howard Zinn, Declarations of Independence: Cross-Examining American Ideology
“Kejahatan terbesar di dunia dilakukan bukan oleh orang yang melanggar aturan, melainkan oleh orang yang mematuhinya. Orang yang mengikuti perintahlah yang menjatuhkan bom dan membantai desa.” — Banksy, Wall and Piece
“Putuskan untuk tidak lagi melayani, maka seketika kau bebas. Aku tidak memintamu mengangkat tangan terhadap sang tiran untuk menjatuhkannya, cukup berhenti menopangnya. Lalu kau akan melihatnya, seperti patung raksasa yang alasnya ditarik, jatuh karena beratnya sendiri dan hancur berkeping-keping.” — Étienne de La Boétie, Discourse on Voluntary Servitude
“Kemampuan pemerintah memakai kekerasan jauh melampaui pemberontak. Memang pemberontakan dengan kekerasan sering memperkuat rezim penindas yang dapat dengan cukup meyakinkan menyatakan bahwa kekerasan pemberontak menuntut penindasan. Keunggulan komparatif pemerintah ada pada tindakan kekerasan. Sebaliknya, keunggulan komparatif rakyat ada pada kemampuan menarik kerja sama mereka, yang tanpanya pemerintah hampir tak mungkin bertahan. Pikirkan betapa mematikan bagi pemerintah aksi mogok membayar pajak, boikot, mogok umum, dan penolakan luas untuk menaati hukum. Taktik ini nirkekerasan, tetapi jika digunakan secara menyeluruh dan tak kenal menyerah, pemerintah mana pun semestinya gentar. Nirkekerasan juga punya keunggulan lain. Karena tampak kurang berbahaya dan radikal dibanding kekerasan, ia lebih mudah … mendapat dukungan luas masyarakat. Biaya keikutsertaan lebih rendah sehingga lebih banyak orang mungkin berpartisipasi. Mereka yang secara tradisional tidak bertempur, seperti anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia, dapat efektif ikut dalam perjuangan nirkekerasan. Cara ini lebih mungkin mengubah sikap lawan dan menimbulkan perpecahan pendapat di dalam kelas penguasa. Umumnya ia menimbulkan jauh lebih sedikit korban luka dan korban jiwa serta kerugian material daripada kekerasan. Dan karena lebih terdesentralisasi daripada tindakan kekerasan, jika berhasil ia lebih kecil kemungkinannya melahirkan negara yang lebih menindas lagi.” — Bryan Caplan, “The Literature of Nonviolent Resistance and Civilian-Based Defense”
“Pemerintah meyakinkan rakyat bahwa mereka terancam serbuan negeri lain atau musuh di tengah mereka sendiri, dan bahwa satu-satunya jalan keluar dari bahaya itu adalah ketaatan seperti budak kepada pemerintah. Kenyataan ini paling jelas terlihat selama revolusi dan kediktatoran, tetapi ada selalu dan di mana pun kekuasaan pemerintah ada. Setiap pemerintah menjelaskan keberadaannya dan membenarkan kekerasannya dengan alasan bahwa tanpa pemerintah keadaan akan jauh lebih buruk. Setelah membuat rakyat yakin akan bahayanya, pemerintah menundukkan mereka di bawah kendali lalu, dalam kondisi itu, memaksa mereka menyerang negeri lain. Dengan begitu, di mata rakyat, keyakinan yang ditanamkan pemerintah tentang bahaya serangan negeri lain tampak terbukti.” — Leo Tolstoy, Christianity and Patriotism (1895)
“Ketika akhirnya kau harus memakai kekerasan, kau sedang bermain menurut aturan sistem. Penguasa akan membuatmu kesal—menarik janggutmu, menyentil mukamu—supaya kau melawan. Sebab begitu kau menggunakan kekerasan, mereka tahu cara menanganimu. Satu-satunya hal yang tidak mereka tahu cara menanganinya ialah nirkekerasan dan humor.” — John Lennon
“Kami tidak dapat dan tidak ingin menggunakan kekerasan kecuali untuk membela diri sendiri dan orang lain dari penindasan.” — Errico Malatesta
“Jadi kita membangun jaringan pertahanan komunitas, bukan tentara. Kita membangun kepercayaan, bukan kekuasaan. Kita menggabungkan permainan yang riang dan pemberontakan yang menantang. Kita menunjukkan cinta melalui solidaritas dan mengkhianati identitas kelompok serta kesetiaan wilayah kita melalui tindakan berani yang dianggap menghina kesucian: rasa ingin tahu, upaya, dan persahabatan. Kita membangun jaringan yang hidup, bukan kelompok tertutup. Bahkan ketika merasa sendirian, kita terjalin dalam selimut perca radikalisme. Lewat tindakan dan pikiran, perlawanan besar maupun kecil, kita sedang membangun sesuatu yang sangat istimewa. Jadi sebagaimana rasa sakit dan perjuangan yang kau hadapi nyata dan mengancam nyawa, ikatan kita pun nyata. Apa pun yang mereka lakukan, anarkisme tak akan pernah dapat dibunuh. Kita dapat menguatkan hati, bahkan ketika harapan semakin mahal. Kau tidak sendiri.” — Stigmergic Parity and Revolt
Aksi Langsung
“Orang bertanya, apa arti usaha kecil kita? Mereka tidak melihat bahwa kita harus memasang bata satu demi satu, melangkah setapak demi setapak. Batu kecil yang dilempar ke kolam menimbulkan riak ke segala arah. Setiap pikiran, kata, dan tindakan kita seperti itu. Tak seorang pun berhak duduk diam dan merasa tak ada harapan. Terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan.” — Dorothy Day ๖
“Jangan pernah meragukan bahwa sekelompok kecil warga yang berpikir dan berkomitmen dapat mengubah dunia; sesungguhnya, hanya itulah yang pernah mengubahnya.” — Margaret Mead
“Dunia berubah karena teladanmu, bukan pendapatmu.” — Paulo Coelho
“Ada hukum yang tidak adil; apakah kita puas menaatinya, atau berusaha mengubahnya sambil tetap taat sampai berhasil, atau langsung melanggarnya? Di bawah pemerintah seperti ini, orang umumnya mengira mereka harus menunggu sampai berhasil membujuk mayoritas untuk mengubah hukum. Mereka mengira jika melawan, obatnya akan lebih buruk daripada penyakitnya. Tetapi pemerintah sendirilah yang salah karena membuat obat itu lebih buruk. Pemerintah yang membuatnya demikian. Mengapa pemerintah tidak lebih siap mengantisipasi dan menyediakan jalan reformasi? Mengapa ia tidak menghargai minoritas yang bijak? Mengapa ia menjerit dan melawan sebelum terluka? Mengapa ia tidak mendorong warganya tetap awas menunjukkan kesalahannya dan bertindak lebih baik daripada yang ia tuntut?” — Henry David Thoreau, Civil Disobedience
“Di mata siapa pun yang membaca sejarah, pembangkangan adalah kebajikan pertama manusia. Kemajuan lahir dari pembangkangan, melalui pembangkangan dan pemberontakan.” — Oscar Wilde, The Soul of Man under Socialism
“Mereka harus belajar bahwa kekuatan mereka bukan pada suara dalam pemilihan, melainkan pada kemampuan menghentikan produksi.” — Voltairine de Cleyre, Direct Action
“Fungsi utama birokrasi serikat dalam tatanan baru adalah menekan aksi spontan anggota biasa yang tidak mendapat persetujuan serikat, menekan aksi langsung di tempat kerja, dan membatasi aksi buruh pada pemogokan resmi menurut aturan NLRB.” — Kevin Carson
“Menurut agorisme, dukungan kepada negara ditarik sedikit demi sedikit lewat apa yang disebut Konkin sebagai ‘Pembangkangan Sipil yang Menguntungkan’. Dengan mengalihkan tanggung jawab itu ke lembaga terdesentralisasi, negara kehilangan pendapatan dan tujuannya; menurut agorisme, inilah cara paling mungkin untuk mencapai pasar bebas.” — “Agorism,” Encyclopedia, menjelaskan strategi Konkin
“Saya menulis pernyataan pendahuluan tentang alasan tidak membayar pajak ini lebih dahulu karena kantor Anda belum lama ini memberitahu bahwa saya akan dipenjara karena terus menolak membayar pajak. Saat ditangkap saya akan memberi Anda laporan penghasilan yang tepat sampai saat itu pada tahun 1948. Keyakinan saya bahwa pemerintah, yang terutama ada untuk berperang, itu tidak adil telah saya sampaikan selama enam tahun terakhir dalam pernyataan kepada departemen Anda setiap kali saya menolak membayar pajak, juga dalam artikel di Catholic Worker.” — Ammon Hennacy
“Jika seribu orang tidak membayar pajak tahun ini, itu bukan tindakan penuh kekerasan dan darah, berbeda dari membayar pajak sehingga Negara dapat menggunakan kekerasan dan menumpahkan darah orang tak bersalah. Ini sebenarnya definisi revolusi damai, jika revolusi demikian mungkin. Jika pemungut pajak atau pejabat lain bertanya kepadaku, seperti yang pernah dilakukan seseorang, ‘Tapi apa yang harus kulakukan?’ jawabku, ‘Jika sungguh ingin melakukan sesuatu, mundurlah dari jabatanmu.’ Ketika yang diperintah menolak setia dan pejabat mundur dari jabatannya, revolusi telah terjadi. Tetapi andaikan darah mengalir. Bukankah ada jenis darah yang tumpah ketika hati nurani terluka? Melalui luka itu kemanusiaan sejati dan keabadian seseorang mengalir ke luar, dan ia berdarah menuju kematian abadi. Aku melihat darah itu mengalir sekarang.” — Henry David Thoreau, Civil Disobedience
“Jika orang miskin tidak dapat mengaksesnya, itu tidak radikal ataupun revolusioner.” — Anonim
“Dapatkah kau membayangkan para budak di perkebunan duduk memilih tuan dan menghabiskan tenaga untuk kampanye serta calon, padahal mereka bisa menempuh jalur pelarian rahasia ‘kereta bawah tanah’? Tentu mereka akan memilih jalan ekonomi tandingan; tentu Dr. Rothbard akan mendesak mereka melakukannya dan tidak tergoda tinggal di perkebunan sampai Partai Para Pemilik Budak Pendukung Penghapusan Perbudakan terpilih.” — SEK III
“Jangan pernah terkecoh mengira orang kaya akan membiarkanmu mengambil kekayaan mereka melalui pemungutan suara.” — Lucy Parsons
“Pada awalnya, gagasan besar tak mungkin pernah berada dalam batas hukum. Bagaimana mungkin? Hukum tidak bergerak. Hukum itu tetap. Hukum adalah roda kereta yang mengikat kita semua tanpa memandang keadaan, tempat, atau waktu.” — Emma Goldman, 1917
“Perubahan terbesar yang perlu kita lakukan adalah berpindah dari konsumsi ke produksi, sekalipun berskala kecil di kebun kita sendiri. Jika hanya sepuluh persen dari kita melakukan ini, ada cukup untuk semua orang. Itulah sebabnya revolusioner tanpa kebun, yang bergantung pada sistem yang mereka serang dan menghasilkan kata-kata serta peluru, bukan makanan dan tempat tinggal, bekerja sia-sia.” — Bill Mollison
Jendela Kesempatan
“Kau tidak akan mengubah sesuatu dengan melawan kenyataan yang ada. Untuk mengubah sesuatu, bangun model baru yang membuat model lama usang.” — Buckminster Fuller ๖
“Negara bukan sesuatu yang dapat dihancurkan oleh revolusi, melainkan suatu keadaan, hubungan tertentu antarmanusia, cara manusia bertindak; kita menghancurkannya dengan membangun hubungan lain, dengan bertindak berbeda.” — Gustav Landauer, dikutip Colin Ward dalam The State and Society
“Kita hidup dalam kapitalisme, seolah tak ada jalan keluar dari kekuasaannya—tetapi hak ilahi para raja pun dahulu tampak demikian.” — Ursula K. Le Guin, pidato penerimaan National Book Awards (2014)
“Melarutkan, menenggelamkan, dan membuat sistem politik atau pemerintah lenyap ke dalam sistem ekonomi dengan mengurangi, menyederhanakan, mendesentralisasikan, dan meniadakan satu demi satu seluruh roda mesin besar yang disebut Pemerintah atau Negara.” — Pierre-Joseph Proudhon, General Idea of the Revolution in the Nineteenth Century
“Manusia perlu beralih secara besar-besaran menuju cara produksi yang kooperatif, terdesentralisasi, dan lentur untuk memastikan umat manusia terus hidup di planet ini.” — Eric Fleischmann
“Kekuasaan ganda adalah gagasan bahwa cikal bakal dunia baru harus dibentuk sambil melawan dunia sekarang; ‘membangun yang baru dalam cangkang yang lama’. Artinya mendorong badan pengelolaan sendiri kelas pekerja, tempat kita dapat menjalankan otonomi dan membatasi kekuasaan atasan serta pemerintah sampai tiba saatnya kita mampu menghadapi dan menghapus keduanya. Strategi kekuasaan ganda secara langsung menantang lembaga kekuasaan dan pada saat yang sama, dalam beberapa hal mulai mewujudkan lembaga baru yang kita bayangkan. Karena itu strategi ini tidak hanya menentang negara, tetapi juga menyiapkan diri menghadapi pertentangan dan pertanyaan sulit yang akan muncul dalam keadaan revolusioner.” — Beyond Resistance
Para penulis seperti James Livingston dan Michel Bauwens secara jelas memakai peralihan masa lalu sebagai model bagi peralihan dari hierarki ke jaringan. Walaupun budaya politik kita, baik Kanan maupun Kiri, membayangkan peralihan setelah kapitalisme lewat Revolusi Prancis dan Rusia—mendadak, berupa pemberontakan, dan sebagian besar disamakan dengan perebutan kekuasaan negara—tidak ada alasan menganggap peralihannya pasti seperti itu. Bisa saja prosesnya relatif bertahap selama puluhan tahun, seperti merosotnya Kekaisaran Romawi Barat dan feodalisme.
[…]
Sistem kapitalis yang berusia sekitar 500 tahun, seperti sistem sejarah sebelumnya, bukan satu kesatuan yang utuh, melainkan kumpulan bentukan sosial yang saling memengaruhi—sebagian sedang naik, sebagian menurun. Maka penggantian kapitalisme tidak harus melibatkan keretakan besar yang dramatis oleh satu kesatuan utuh kekuatan progresif. Seperti dikatakan Eugene Holland,
tuntutan akan perpecahan sistemik yang radikal itu hanya perlu jika sejak awal masyarakat atau cara produksi dianggap sebagai sistem yang menyeluruh. […] Memandang unsur-unsur itu sebagai yang dominan, yang tersisa, dan yang baru muncul sangat memperbaiki peluang utopis, sebab agaknya akan ada unsur positif yang dapat didukung (yang ‘baru muncul’) di samping unsur negatif untuk dikritik dan ditolak (barangkali semua yang ‘dominan’). […]
Akhirnya keadaan terselesaikan ketika kekuatan tatanan lama mencoba—dan gagal—menghalangi peralihan.
[…] keadaan kita sekarang mendukung […] karena kekuatan pembentuk dari orang banyak telah matang hingga, melalui jaringan komunikasi dan kerja sama serta penciptaan milik bersama, mereka makin mampu mempertahankan sendiri masyarakat demokratis yang lain. Di sinilah soal waktu menjadi penting. Kapan saat perpecahan tiba? […]
Politik revolusioner harus menangkap, dalam gerakan orang banyak dan akumulasi keputusan bersama yang kooperatif, saat perpecahan […] yang dapat menciptakan dunia baru.
Tetapi betapa pun mendadak dan dramatisnya perpecahan terakhir terlihat, itu hanyalah puncak proses panjang yang telah ada sebelumnya: ‘membangun struktur masyarakat baru di dalam cangkang yang lama’.
[…]
John Holloway juga berpendapat bahwa peralihan setelah kapitalisme akan menjadi ‘proses di celah-celah’ seperti peralihan dari feodalisme ke kapitalisme.
[…]
Produksi antarrekan yang bertumpu pada sumber daya bersama, sebagai pilihan selain perusahaan kapitalis dan negara, memungkinkan
produksi sosial langsung atas nilai guna melalui cara hidup baru yang sebagian besar berada di luar kendali modal dan dengan sarana produksi yang telah menjadi milik sosial hingga tingkat sangat besar. Proses baru ini adalah pascakapitalis, bukan kapitalis, dalam arti proses itu tidak lagi memerlukan peran khusus modal untuk terus menghasilkan dirinya.
— Kevin Carson, The Desktop Regulatory State, “The Transition from Hierarchies to Networks”
“Jika secara hukum tak mungkin memaksa penguasa mengubah cara mereka memerintah kita, dan jika karena berbagai alasan mereka yang menolak kekuasaan itu tak mampu atau tak ingin menggulingkannya dengan kekuatan, maka membangun [masyarakat] yang mandiri, lain, atau sejajar adalah satu-satunya jalan keluar yang bermartabat.” — Ivan Jirous, Parallel Polis: An Inquiry, sebagaimana dikutip Academy of Ideas
“Sayangnya, lembaga ekonomi tandingan bekerja di dalam kerangka perekonomian kapitalisme korporasi yang lebih luas. Mereka bersaing di pasar tempat budaya kelembagaan perusahaan dominan bergerak dari atas ke bawah dan hierarkis, sehingga sangat berisiko menyerap budaya itu sendiri. Itulah sebabnya kita melihat sektor nirlaba dan koperasi yang cara pengelolaannya tak dapat dibedakan dari padanan kapitalisnya: gaji demi gengsi, jabatan manajemen menengah yang dibuat-buat, irasionalitas birokrasi, dan ketundukan buta pada dogma teori motivasi dan pengelolaan terbaru. Masalah itu diperburuk oleh sistem keuangan kapitalis yang memberi penguatan positif berupa kredit kepada perusahaan yang mengikuti model organisasi ortodoks, bahkan ketika organisasi dari bawah jauh lebih efisien.” — Kevin Carson, Building the Structure of the New Society Within the Shell of the Old
“Teknologi komunikasi yang mendatar dan berjaringan memungkinkan transisi fase dalam kesadaran publik dengan kecepatan yang belum pernah ada. Doug McAdam menciptakan istilah ‘Pembebasan Kognitif’ bagi ‘proses ketika orang mendadak dan bersama-sama memutuskan bahwa mereka tak lagi takut, bahwa ketakutan atau sikap masa bodoh mereka baru-baru ini berdasar pada kebohongan, dan bahwa tidak ada jalan kembali ke cara pikir lama.’ Begitu massa kritis masyarakat memutuskan perubahan tak terelakkan, memang demikianlah kenyataannya. Dengan teknologi komunikasi berjaringan, massa kritis itu dapat terbentuk mendadak dan di luar dugaan.” — Kevin Carson, The Desktop Regulatory State: The Question of Repression
“Sebuah ironi tragis bahwa pembunuhan massal yang paling mematikan dalam sejarah manusia digerakkan oleh keinginan menciptakan masyarakat yang sama sekali berbeda dan lebih baik. Upaya merekayasa Utopia telah dipakai untuk membenarkan sebagian kejahatan paling mengerikan di dunia.” — Benjamin A. Valentino
“Revolusioner paling radikal pun akan menjadi konservatif sehari sesudah revolusi.” — Hannah Arendt
“Semua revolusi modern berakhir dengan menguatnya kekuasaan Negara. Tahun 1789 melahirkan Napoleon; 1848, Napoleon III; 1917, Stalin; pergolakan Italia pada dekade 1920-an, Mussolini; Republik Weimar, Hitler. Revolusi-revolusi ini, terutama setelah Perang Dunia Pertama menghapus sisa-sisa hak ilahi, masih mengusulkan dengan keberanian yang makin besar pembangunan kota umat manusia dan kebebasan sejati. Negara yang makin mahakuasa setiap kali memberi restu pada ambisi itu. Akan keliru mengatakan hal itu pasti terjadi. Tetapi kita dapat menelaah bagaimana hal itu terjadi; mungkin kemudian pelajarannya tampak. Terlepas dari beberapa penjelasan yang bukan pokok tulisan ini, pertumbuhan Negara modern yang aneh dan mengerikan dapat dianggap sebagai akhir yang masuk akal dari ambisi teknis dan filosofis yang berlebihan, yang asing bagi semangat pemberontakan sejati tetapi melahirkan semangat revolusioner zaman kita. Mimpi kenabian Marx dan ramalan Hegel atau Nietzsche yang terlalu terilhami, setelah kota Tuhan diratakan, akhirnya memunculkan Negara yang rasional atau irasional, namun dalam kedua keadaan berdiri di atas teror.” — Albert Camus, The Rebel
“…mustahil mencapai revolusi seperti itu dengan kediktatoran dan kekuasaan negara. Tanpa pembangunan ulang yang luas dari bawah—dilaksanakan pekerja dan petani sendiri—revolusi sosial akan berakhir dengan kebangkrutan…. [K]ita harus berharap bahwa… usaha serius akan dilakukan untuk membentuk di dalam kelas pekerja—petani, buruh, dan cendekiawan—orang-orang revolusi masa depan yang tidak akan menaati perintah dari atas tetapi mampu mengembangkan sendiri bentuk bebas bagi seluruh kehidupan ekonomi yang baru.” — Pyotr Kropotkin
XMR: 87hvyvHLQWx3zix8xcbJ7AdqkFHx4UpyZirfgXHGKBJSQ5qNeWuXaNBM1TtRp9AUyL9KyYNrtmTww9HHgC4GF4R5VFVZi4N“Bumi dipenuhi reruntuhan kekaisaran yang mengira dirinya kekal.” — Camille Paglia